Latest Article Menjaga Tradisi di Tengah Tantangan

Mengaji Kitab Kuning, Mempertahankan Eksistensi Pesantren



Kediri, NU
Kitab kuning identik dengan pesantren. Di Indonesia, kitab kuning digunakan sebagai buku wajib di pondok yang juga disebut kitab salaf, yang artinya klasik atau kuno.

Mengaji kitab kuning sudah menjadi aktivitas sehari-hari yang dilakukan para santri. Bukan hanya di bulan-bulan biasa, juga di bulan Ramadhan seperti saat ini. Libur panjang yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam aktivitas, dimanfaatkan untuk "ngaji kilatan". Disebut ngaji kilatan, kerena kegiatan ini berlangsung hanya Ramadhan, dan pengkajian kitab pun dikebut.

Sampai saat ini memang belum ada kajian khusus tentang asal kitab kuning. Kitab yang identik dengan kitab gundul (karena memang tidak ada harakatnya) ini sudah ada sejak dulu. Dan, di Indonesia, kitab ini menjadi acuan dalam kegiatan pengajian di pondok-pondok salaf.

Kitab kuning tidak dapat dipelajari dalam waktu instan. Karena kitab ini tidak ada harakatnya, membuat pendalaman kitab berlangsung dalam rentang yang cukup lama, sampai bertahun-tahun.

Para santri harus memahami isi kitab kuning, dengan belajar Tata Bahasa Arab, seperti Ilmu Nahwu, Ilmu Shorrof, sampai Ilmu Mantiq, dan sejumlah cabang ilmu lainnya. Ilmu itu masih dasar, dan harus didalami dengan mengikuti kajian kitab yang dipimpin oleh pengasuh ataupun santri senior lainnya.

Metode pengajian di pondok biasanya berlangsung dengan cara tatap muka. Pengasuh ataupun santri senior membacakan naskah bahasa arab lengkap dengan artinya sesuai dengan bahasa di pondok itu berada.

Para santri lalu memanfaatkan alat tulis dengan ujung pena kecil menuliskan makna yang telah diajarkan oleh pengasuh ataupun santri senior yang membacakan kitab saat itu. Dulu, para santri memanfaatkan alat tulis dengan mata pena yang dicelupkan pada tinta China yang diberi pelepah daun pisang agar meresap, tapi karena dianggap sudah tidak efisien, akhirnya para santri memilih memanfaatkan bolpoin dengan mata pena lebih kecil, yang biasanya banyak dimanfaatkan oleh para arsitektur.

Di Kediri, terdapat sebuah pondok pesantren yang pengasuhnya menggunakan metode baru untuk mempelajari kitab. Adalah di Pondok Pesantren dan Madrasah Spesial Fiqih "Hidayatut Thullab" di Dusun Petuk, Desa Pohrubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Pondok ini didirikan oleh KH Ahmad Yasin Asymuni. Beliau memberikan gagasan untuk memberikan makna bahasa Jawa dari kitab-kitab yang dipelajari para santri. Tujuannya, tak lain untuk memudahkan para santri memahami kitab dan mempercepat proses belajar.

KH Ahmad Yasin Asymuni merupakan salah satu pengasuh pondok pesantren yang cukup aktif menghasilkan karya. Selain sebagai salah seorang pencetus dan yang memprakarsai penerbitan kitab dengan makna Bahasa Jawa tersebut, beliau juga cukup produktif.

Sejumlah penghargaan diberikan kepadanya. Atas usahanya memprakarsai penerbitan kitab dengan makna Bahasa Jawa, pada 2004 beliau didatangi oleh para orientalis dari Chicago, AS dan memberinya gelar sebagai profesor. Ia juga mendapatkan penghargaan dari Kementerian Agama atas jasanya dalam bidang keilmuan/akademik sebagai penulis produktif dalam kajian kitab di pesantren pada 2 Januari 2011 lalu.

Kitab bermakna di pondok ini populer dengan sebutan "Kitab Bima'na Pethuk". Seluruh penanganan kitab ini seperti pencetakan dan pendistribusian dikelola oleh koperasi pondok dan didistribusikan ke seluruh pesantren di Indonesia.

Bukan hanya itu, beberapa di antaranya juga didistribusikan ke luar negeri, seperti ke Malaysia, Mesir, dan sejumlah negara lainnnya. Sejak 1993 sampai sekarang, ada 188 kitab yang dipublikasikan. Mayoritas kitab-kitab ini dilengkapi dengan makna berbahasa Jawa.

Pengasuh memimpin sendiri pemaknaan kitab kuning itu. Ia dibantu oleh santri yang tulisannya bagus dan bertugas mencatat semua uraiannya di samping naskah utama. Catatan pinggir itu kemudian diselaraskan lagi dengan isi kitab, agar tidak terjadi kesalahan pemaknaan.

Pengasuh berharap dengan pemaknaan itu, akan memudahkan para santri untuk belajar. Dengan kitab yang sudah diberi makna, para santri bisa lebih cepat belajar dan bisa segera mempelajari kitab lainnya, sehingga ilmu yang didapat juga lebih banyak.

"Mayoritas pengasuh sendiri yang memberikan makna, tapi masih dibantu dengan santrinya," kata Fuad Hasyim, pengurus di pondok itu.

Sebenarnya, upaya pemaknaan kitab kuning di pondok tersebut telah dimulai sejak pertengahan 1990. Saat ini, sudah terdapat 188 kitab yang dihasilkan oleh pengasuh dan mayoritas dilengkapi dengan makna Bahasa Jawa. Seluruh kitab itu dicetak dan didistribusikan ke seluruh pesantren di Indonesia lewat koperasi pondok.

Satu kitab, rata-rata dicetak sampai 25 ribu eksemplar. Tiap tahun rata-rata pengasuh membuat 10 judul kitab baru. Khusus untuk Ramadhan, permintaan kitab yang terbanyak adalah "nukilan". Kitab ini dibuat oleh pengasuh sendiri, yang diambil dari berbagai macam kitab ditulis ulang oleh beliau.

Sementara itu, para santri di pondok ini bukan hanya berasal dari wilayah Kediri saja. Banyak para santri berasal dari luar Jawa Timur, seperti dari Sumatera, Kalimantan, dan sejumlah daerah lain di Indonesia.

Kurikulum di pondok ini juga berbeda dengan kurikulum di pesantren pada umumnya, yaitu lebih singkat dan padat. Khusus di tingkat aliyah yang lebih konsetrasi pada ilmu fikih atau "takhassush fiqh".

Di pondok ini, selain bisa mempelajari ilmu agama secara mendalam dan matang dengan kuriklum tinggi, para santri juga bisa mendapatkan ijazah formal (SMP/SMA) melalui wajar Dikdas sembilan tahun dan kejar paket. Ijazah di pondok ini juga bisa dimanfaatkan untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi agama di seluruh Indonesia.

Belajar Mandiri

Para santri di pondok ini selain belajar agama juga diberi keterampilan sebagai bekal mereka di masa depan. Beragam program diberikan sebagai upaya belajar mandiri, misalnya untuk santri putri diberi keterampilan menjahit, sedangkan santri putra diberi keterampilan belajar elektronik, otomotif, pertanian, maupun peternakan.

Pengurus pondok Fuad Hasyim mengatakan untuk program peternakan, ada sekitar tiga kolam yang sudah dimiliki. Satu di antara kolam itu ukurannya cukup besar mampu menampung ikan sampai 30 ribu ekor.

"Kolammnya diisi ikan manggasius dan sudah panen kemarin. Saat ini belum diisi kembali," tuturnya.

Ia mengatakan, para santri memang dilibatkan untuk mengurus beberapa unit usaha dari pondok, tapi tidak semua santri. Hal itu dilakukan, agar para santri konsentrasi belajar.

Selain mandiri dengan diberi bekal keterampilan, para santri juga dilatih mandiri menjadi seorang pendakwah. Pondok memberikan program istigasah dan dialog interaktif. Pengasuh pondok, KH Ahmad Yasin Asymuni menjadi tokoh sentral istighotsah dan dialog interaktif Hidayatut Thullah (IDI-HIT).

Abidin, pengurus pondok lainnya mengatakan terdapat kegiatan dakwah yang dilakukan di dalam pesantren dilakukan setiap dua pekan sekali, lalu kegiatan IDI-HIT setiap satu bulan sekali, merupakan kegiatan di luar pondok dilakukan berpindah-pindah, serta istigasah Hidayatut Thullab (IS-HIT) yang merupakan lokasi silaturahmi alumni pondok.

"Pengasuh merupakan tokoh sentral kegiatan itu, tapi biasanya santri yang diserahi tanggung jawab," tukasnya.

Ia merasa dengan program itu, ilmu yang selama ini dipelajari di pondok lebih mengena. Selama ini, mereka belajar, diskusi tentang ilmu mereka, tapi hanya di lingkungan pondok. Dengan terjun ke masyarakat langsung, ilmu mereka menjadi lebih bermanfaat.

Di pondok ini memang terkenal dengan salaf. Namun, saat ini pondok sudah mulai membuka pondok khusus anak untuk putra dan putri tepatnya pada 2010 lalu dengan program pendidikan SD-plus, yaitu sekolah dasar plus diniyah dengan kegiatan ekstra seperti belajar membaca kitab suci Al Quran dan mengaji.

Para santri di pondok anak juga berasal dari berbagai macam deerah di Jatim. Ada sekitar 50 santri anak yang sudah tinggal di tempat itu, dan mereka dibimbing oleh sekitar sembilan ustaz yang juga santri di pondok.

Walaupun membuka untuk program pendidikan SD-plus, Abidin meyakinkan eksistensi pondok pesantren akan tetap terjaga. Bukan hanya mempertahankan kitab kuning sebagai buku wajib di pondok, juga mengajarkan ilmu agama, memperbaiki akhlak, serta mengajarkan tata cara beribadah yang sesuai tuntunan agama.

Redaktur: Mukafi Niam
Sumber  : Antara

Belajar Al-Qur’an di atas Becak




Solo, NU
Pada bulan Ramadhan, semua ibadah akan dilipat gandakan. Nah belasan tukang becak di Solo ini tidak mau kerlena dengan profesi mereka.

Mereka yang tergabung dalam paguyuban dalam Paguyuban Tukang Becak Solo Grand Mall itu berkumpul sambil menunggu penumpang terlihat antusias menyimak penjelasan dari sesama kawannya.

Momentum Ramadan tahun ini dimanfaatkan para tukang becak ini untuk belajar bersama membaca Al-Qur’an. Kegiatan itu digelar untuk mengisi waktu senggang saat menjalani puasa di bulan Ramadan.

Ukur Sukar (71) salah seorang tukang becak mengaku jika dirinya memang tidak bisa membaca Al-Qur’an. Namun, ia sering mendengarkan bacaan Al-Qur’an melalui pengajian di masjid.

“Saya tidak bisa membaca Al-Qur’an sejak dulu, ya dengan adanya kegiatan ngaji bersama ini saya menjadi sedikit mengerti cara membacanya dan memahami arti dari Al-Qur’an tersebut,” ujarnya kepada wartawan seusai membaca Al-Qur’an.

Menurut Ukur, kegiatan ini sangat berarti daripada ia bersama teman-temannya jenuh menunggu penumpang dan hanya dihabiskan waktu dengan tidur saja. Saling belajar membaca Al-Qur’an menurutnya lebih positif dan mendatangkan pahala.

Sementara itu, tukang becak lain yang bertindak sebagai guru pengajar Al-Qur’an, Imam Suyatno (49) mengatakan senang bisa mengajari teman-temannya agar bisa menjalankan syariat Islam dengan baik. Karena selain ibadah salat membaca Al-Qur’an saat bulan Ramadan pahalanya besar sekali.
Ia berharap kegiatan mengaji ini tidak hanya dilakukan saat bulan puasa saja, tapi di bulan-bulan selanjutnya bisa terus berjalan.

"Saya juga ingin mengajarkan salat pada teman-teman yang lain, saya liat mereka salatnya masih banyak yang bolong-bolong bahkan ada yang tidak bisa doanya,” jelasnya.



Redaktur    : A. Khoirul Anam
Kontributor: Ahmad Rosyidi

BUKU Meninti Kesempurnaan Iman





Sanggahan atas buku “ Benteng Tauhid “ karya Syekh Abdullah bin Baaz

Oleh : Habib Munzir Al Musawa

Daftar Isi

1. Istighatsah ... 1
2. Peringatan malam Nisfu Sya’ban ... 11
3. Membuat bangunan atau membangun masjid diatas kuburan ... 34
4. Peringatan maulid Nabi Muhammad Saw .... 44
5. Tabarruk ... 82
6. Memohon pertolongan kepada orang yang telah mati ... 94
7. Ibadah di malam Isra Mi’raj ... 108
8. Keutamaan tauhid ... 138
9. Mengambil keberkahan atas jimat atau ulisan ayat – ayat Alqur’an ... 142
10. Menyembelih binatang dengan nama selain Allah ... 149
11. Meminta pertolongan kepada selain Allah ... 151
12. Sikap berlebih – lebihan dalam ibadah ... 156
13. Thawaf di kuburan ... 174
14. Bertanya sesuatu hal kepada shalihin ... 182
15. Mencintai dan takut kepada Allah melalui perantara Kekasih-Nya ... 182
16. Bergantung kepada Nabi Muhammad Saw ... 183
17. Memberi nama harus disandarkan kepada Nama Allah ... 184
18. Melukis atau mengagungkan atau menggantung gambar makhluk bernyawa... 185 19. Memuliakan orang shalih ... 187
20. Menghukum dengan hukum selain hukum Allah ... 188
21. Bersumpah atas nama selain Allah ... 190
22. Golongan yang selamat ... 191

DOWNLOAD

Puasa dan Ajaran Sunan Ampel tentang Mohlimo





Alkisah Sunan Ampel dipanggil oleh Bhre Kertabumi, Raja Majapahit. Ia ditugaskan untuk memperbaiki moral masyarakatnya yang bejat.
Sunan Ampel memperbaiki akhlaq masyarakat dengan mengajarkan prinsip mohlimo. “Moh” artinya tidak mau. “Limo” artinya lima. Jadi mohlimo berarti tidak mau melakukan lima hal, yaitu: main (berjudi), minum (minuman keras),maling (mencuri), madat (narkotika), danmadon (main perempuan).
Menurut Sunan Ampel, dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa mereka yang melakukan lima hal itu akhirnya menderita baik lahir maupun batin. Sebaliknya jika menghindari lima hal ini, hati/rohaninya menjadi bersih, fisik menjadi sehat, jauh dari serangan berbagai jenis penyakit, dan insya Allah hidupnya sekeluarga berbahagia.
Maka dalam waktu relatif tidak terlalu lama Sunan Ampel dapat memperbaiki moral rakyat Majapahit masa itu. Ajarannya banyak menarik simpati dan pada akhirnya banyak rakyat Majapahit yang tertarik Islam, termasuk para pembesar kerajaan.
Kini di kalangan masyarakat Jawa tak asing lagi mendengar kata mohlimo atau lima Mo yang merupakan pedoman hidup yang mesti dipegang teguh, yang bersumber dari ajaran Islam. Ajaran Sunan Ampel tentang mohlimo yang sampai sekarang masih relevan.
Pengalaman membuktikan, ketika seorang melakukan Mo yang pertama maka akan diikuti Mo berikutnya, dan seterusnya.
Yang pertama yakni maling atau mencuri. Maling bisa berarti korupsi atau mencuri, dan semua perbuatan yang disebut mencuri, maka orang tadi sudah bisa dibilang melakukan perbuatan Mo yang pertama yakni maling.
Setelah maling atau koruptor mengembat duit negara yang bersumber dari duit rakyat jelata ratusan sampai miliaran rupiah atau mengembat uang serta harta benda milik orang lain, maka orang itu hawanya panas akan cenderung tergoda untuk melangkah pada step (tahap) Mo kedua yakni main.
Main sebagai Mo kedua dalam istilah Jawa maksudnya : judi, gambling, taruhan, dan aneka perbuatan yang intinya berjudi. Berjudi menjadi lebih mengasyikkan bagi orang yang telah maling, karena toh bukan uang halal yang dibuat judi, jadi beban mental untuk berjudi tidak seberat ketika memakai uang gaji atau keuntungan bersih dagang yang halal. Berjudi ketika memakai uang hasil korupsi akan terasa lebih ringan karena kalau habis, toh bukan uang dirinya sendiri, nanti bisa korupsi lagi.
Setelah melakukan Main sebagai Mo Kedua dalam komponen 'Lingkaran Setan MoLimo', maka orang yang telah berjudi memerlukan tambahan stamina untuk tetap ‘on’ dalam bersenang-senang dalam kemaksiatan yakni dengan melangkah pada tahapan atau stage/ step Mo yang ketiga yakni : Minum.
Mo ketiga dari satu lingkaran setan MoLimo adalah Minum. Minum adalah istilah dalam bahasa Jawa untuk minum miras (minuman keras). Dalam Mo ketiga ini otak akan dibawa larut oleh suasana lebih rileks dan gembira saat dalam kondisi Mo Kedua yakni Main/berjudi, karena kalah-menang pun akan tetap gembira karena pengaruh alkohol. Derai tawa selalu membahana di tengah kesukaan dan keriaan tenggelam dalam lingkaran setan MoLimo.
Bila tubuh dan keinginan telah menagih untuk mencapai derajat teler yang lebih tinggi sebagai kenikmatan berikutnya, maka telah sampailah pelaku pada step Mo yang keempat yakni Madat.
Madat dalam istilah bahasa Jawa maksudnya memakai opium, opiate dan obat bius (dulu), kalau sekarang adalah menyalahgunakan narkotika dan aneka produk turunannya.
Lazim didapati sebuah efek menagih setelah tubuh ringan oleh alkohol maka muncul keinginan kuat untuk menambah derajat kenikmatan menjadi kenikmatan narkoba.
Dalam Mo keempat dalam lingkaran setan ini orang akan mengkonsumsi narkoba.
Kini lazim diketahui berbagai jenis narkoba bisa menggiring otak ke arah sensasi luar biasa yang sesungguhnya fatamorgana, apalagi jenis shabu dan methamphetamine, maka orang yang telah sampai pada step Mo keempat, akan segera mencari step Mo yang kelima yakni madon.
Madon adalah Mo kelima atau Mo final, jurang dari seluruh prosesi rangkaian 'Lingkaran Setan MoLimo' yang dilakukan orang, dan tersedia luas di muka Bumi. Namun, sejak setan adalah musuh yang nyata, maka kita harus senantiasa waspada. Mo kelima adalah Madon. Apa hubungannya Madon dengan Madat ? Jawabnya : kerap kali orang memakai narkotika jenis shabu dan aneka narkotika jenis baru untuk menghantarkan pada step berikutnya yakni memuaskan diri dalam hal hasrat seksual.
Pada tahapan step Mo kelima dalam ihkwal rangkaian MoLimo sebagai lingkaran setan yang tak terputus ini, Madon adalah istilah lain untuk main perempuan (nakal). Madon secara umum dalam bahasa Jawa adalah berzina, selingkuh, melacur, main dengan pelacur.    
Istilah madon dalam bahasa Jawa digunakan sebagai penanda untuk kegiatan berzina baik untuk lelaki dan perempuan. Sampai pada step yang Kelima yakni Madon ini, maka pelaku bukannya berhenti, tapi karena MoLimo pada hakekatnya adalah sebuah circle, sebuah siklus dan sejatinya adalah lingkaran setan, maka pelaku akan kembali lagi pada step/ stage yang pertama yakni maling lagi, korupsi lagi. Tidak ada puasnya, seperti terkena penyakit psikopat.
Jadi dalam konteks Ramadhan, maka puasa bukan semata-mata menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan hawa nafsu MoLimo tadi. Singkatnya, puasa adalah juga sebuah komitmen untuk Mohlimo, menghindari malingmainminummadat, dan madon dalam berbagai bentuknya.

* Abdullah Hamid
Pengasuh Pesantren Budaya Asmaulhusna (Sambua) Lasem, Jawa Tengah



Buku Kenalilah Aqidahmu



KENALILAH AKIDAHMU 2
Penulis : Munzir Almusawa
Editor : Bintyqurratainiy
Desain Sampul & Layout : Ahmad Fauzi
Cetakan Pertama : 2009
Penerbit, Majelis Rasulullah saw
Tel, 021-7986709
Http://www.majelisrasulullah.org
Copyright © 2009
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved

KATA PENGANTAR
Bismillahirahman rahim, segala puji bagi Allah Azza Wa Jalla, Tuhan seru
sekalian alam yang menyeru sekalian hati hamba-Nya untuk selalu turut serta dalam
samudera makrifat hingga tenggelam dalam kecintaan kepada-Nya. Shalawat
serta salam atas Al-Mustafa Sayyidina Muhammad saw jadilah abadi padanya,
keluarganya dan seluruh sahabatnya.
Telah banyak permintaan dari saudara-saudari kita untuk membahas lebih
lanjut seputar permasalahan khilafiyah semacam kegiatan Maulid, Tahlil, Ziarah
Kubur, Dzikir, Yassin dan beberapa hal ubudiyah lainnya yang menurut sebahagian
dari saudara kita dipungkiri kebenarannya.
Buku yang diberi judul “Kenalilah Akidahmu 2”. Pada akhirnya adalah
kewajiban bagi kita untuk selalu menyeru dan menyeru atas mereka siapapun
mereka selama mereka keturunan Adam as untuk terus mengenal indahnya
keagungan islam sebagai akhlaq, pedoman hidup dan aqidah. wallahu a’lam.
Dengan segala kerendahan hati, saya berharap agar kehadiran buku ini turut
serta memperkaya khazanah keislaman kita.

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ……………………............…………………………………. i
DAFTAR ISI.……………………………………………................……………....... ii
BAB I DEFINISI BID’AH, HADITS DHO’IF DAN SEJARAH RINGKAS PARA
IMAM DAN MUHADDITSIN
I.1. DEFINISI BID’AH ….....……………………………………. … 1
I.1.1 Nabi Saw Memperbolehkan Berbuat Bid’ah Hasanah …. 1
I.1.2 Siapakah Yang Pertama Memulai Bid’ah Hasanah Setelah
Wafatnya Rasul Saw ….…........………………………..... 2
I.1.3 Bid’ah Dhalalah ……….……………………………........ 7
I.1.4 Pendapat Para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah ... 9
I.2. DEFINISI HADITS DHO’IF ……...…………………………….. 11
I.3. SEJARAH RINGKAS PARA IMAM DAN MUHADDITSIN .. .... 17
BAB II MASALAH KHILAFIYAH DAN DAN SEPUTAR TANYA JAWAB YANG
ADA DI WEBSITE (www.majelisrasulullah.org)
II.1. Ayat Tasbih ………………………………………………………….. 23
II.2. Hukum Majelis Dzikir dan Dzikir Bersama …………………………. 26
II.3. Hukum Alat Musik Rebana di Masjid ………………………………. 28
II.4. Surat Sanggahan ................................................................................. 30
II.4.1 Dalam Hal Shalat …....……………………………………. 31
II.4.2 Dalam Shalat Jum’at ……………………………………… 34
II.4.3 Dalam Shalat Tarawih / Witir / Tahajjud ….……………… 36
II.4.4 Dalam Upacara Ta’ziyah …….…………………………… 38
II.4.5 Dalam Upacara Penguburan ……………………………… 40
II.5. Kenduri Arwah, Tahlilan, Yassinan menurut Para Ulama .................. 41
II.6. Tahlilan .…………………….........................................………….... 49
II.7. Tawassul .……………………................................………………… 52
II.8. Peringatan Maulid .............................................................................. 60
II.9. Tabarruk ............................................................................................. 70
II.10. Istighatsah .………………………........................................………. 75
II.11. Wajibkah Bermadzhab .………............................………………….. 78
II.12. Orangtua Rasul Saw Mati Musyrik ..………................…………….. 79
II.13. Mengirim Pahala dan Bacaan kepada Mayyit..…………….....…….. 85
II.14. Mengangkat Tangan Sesudah Berdoa Sesudah Shalat .…………….. 93
II.15. Bersalaman Bid’ah …………………………………………………. 94
II.16. Cium Tangan Bid’ah ……………………………………………….. 94
II.17. Melafadzkan Niat Menurut Madzhab Syafi’iyah .………………… 98
II.18. Qabliyah Jum’at Tidak Ada …………………………………….… 99
II.19. Shalat Berjama’ah dan Wirid Bersama …………………………….. 101
II.20. Tanda Hitam di Kening / Dahi .…………………………………… 104
II.21. Keutamaan Shalawat Nariyah ( Fiqh / Aqidah ) …………………… 105
II.22. Hukum Adzan dan Iqamah di Kuburan ……………………………. 107
II.23. Jihad ………………………………………………………………… 108
II.24. Foto Ulama dan Kuburan di Masjid ………………………………… 109
II.25. Wanita Ziarah ke Makam …………………………………………… 113
II.26. Nabi Muhammad Saw di Alam Barzakh …………………………… 113
II.27. Zakat Profesi ………………………………………………………. 118
II.28. Cara Menghitung Zakat Harta …………………………………….. 121
II.29. Shalat Tarawih …………………………………………………….. 122
II.30. Hadits Bantahan Amalan Bulan Rajab ……………………………. 123
II.31. Daulah Islamiyyah ………………………………………………… 125
II.32. Nabi Khidir As Masih Hidup ……………………………………… 127
II.33. Sorban dan Imamah Bukan Sunnah Tapi Adat Orang Arab Saja .… 129
II.34. Yasinan Malam Jum’at Haditsnya Palsu ………………………….. 130
II.35. Petasan Kembang Api Maulid adalah Munkar .…………………… 131
II.36. Jawaban Atas Penghinaan Terhadap Ulama Hadramaut, Yaman … 132
II.37. Hukum Bayi Tabung ……………………………………………… 141
II.38. Hadits Sentuhan Didhoif-kan Imam Bukhari …………………….. 141
BAB III PERNYATAAN - PERNYATAAN YANG DIJAWAB..............……......... 144
MASALAH - MASALAH LAINNYA SEPUTAR FIQIH, AKIDAH, TAUHID
DAN LAINNYA ........................................................................................................... 190
JAWABAN UNTUK KECAMAN TERHADAP NABI SAW...…………........…... 229
TEKS ARAB DAN WIRD ALLATHIF (Hujjatul Islam Al Imam Abdullah bin
Alwi Alhaddad) ........................................................................................................... 275
DOA NABI KHIDIR AS ………………………………………………………........ 299
SANAD ILMU …………………………………………………………………........ 301
SANAD SHAHIH MUSLIM …………………………………………………......... 311
SANAD SHAHIH BUKHARI ................................................................................... 312

DOWNLOAD

Kasih Sayang Nabi kepada Kedua Cucu Mungilnya



Pernah suatu kali jamaah shalat Jum’at dikagetkan dengan tindakan Nabi Muhammad SAW di sela-sela khotbahnya. Rasulullah mendadak turun dari mimbar lantaran kedua cucunya yang masih kecil, Hasan dan Husain, menangis.
Nabi segera menghampiri Hasan dan Husain yang saat itu sedang ikut di masjid dan berusaha menenangkan keduanya. Melalui bahasa isyarat dan kelembutan hatinya, tangisan mereka mereda, dan beliau pun melanjutkan khotbahnya hingga selesai. Tak pernah Nabi membaca khotbah lebih panjang dari shalatnya.
Peristiwa lain tentang ”tingkah usil” kedua cucu mungilnya ini juga terjadi saat Rasulullah sedang mengerjakan shalat sunnah dua rakaat. Ketika sujud berlangsung, tiba-tiba Hasan memanjat punggung Nabi. Hasan kecil memukuli tubuh kakeknya itu selayak menunggang kuda yang mesti berpacu cepat.
Sebetulnya Nabi sudah cukup lama menempelkan dahinya di atas lantai. Tapi tingkah Hasan membuat manusia mulia ini memperpanjang sujudnya lebih lama lagi. Hasan puas bermain kuda-kudaan.
Hasan akhirnya turun. Nabi mulai berniat mengangkat tubuhnya. Sekali lagi punggungnya tertahan. Husain tiba-tiba melompat ke atas punggung dan menirukan aksi kakaknya, Hasan. Artinya, Nabi mesti menambah waktu lagi untuk menunda duduk tasyahud. Baru ketika kedua cucunya turun, Rasulullah melanjutkan gerakan sembahyangnya.
Rasulullah mencontohkan betapa kasih sayang terhadap keluarga dan anak kecil adalah sikap yang harus diutamakan. Sikap Nabi ini juga mencerminkan kepekaannya tentang menghargai keterbatasan seseorang, baik dalam hal kondisi fisik, daya tangkap, ataupun tingkat pengetahuan. Keluhuran akhlak Nabi terpancar justru saat segenap keputusannya tersebut menjadi prioritas, melebihi ritus keberagamaan. (Mahbib Khoiron)

Penyatuan Shalat Tarawih Bukti Adanya Toleransi



Solo, 
Pelaksanaan tarawih perdana di Masjid Agung Solo, Selasa (9/7) malam kemarin, mengakhiri dualisme seperti yang terjadi pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya. Dulu, shalat tarawih dilaksanakan terpisah dua kelompok dalam waktu yang bersamaan. Namun pada shalat tarawih semalam, terlihat semua jamaah berkumpul menjadi satu di ruang utama.

“Kalau tahun-tahun sebelum memang ada dua salat tarawih di bagian utama masjid dan di serambi. Tapi untuk kali hanya akan ada satu salat tarawih saja, yaitu di ruang utama masjid,” terang Ketua Takmir Masjid Agung Surakarta, Slamet Abi.

Ratusan jamaah yang mengikuti sholat dengan antusias mengikuti jumlah rakaat yang sudah ditetapkan, yakni 20 rakaat. Sang imam membaca al-Quran dari juz 1. “Ramadan tahun ini kami targetkan dalam shalat tarawih bisa mengkhatamkan Al Qur’an,” ungkap dia.

Tatkala sudah mencapai delapan rakaat, kemudian jamaah yang ingin 20 rakaat berhenti salat, sampai menunggu salat witir selesai dengan imam berbeda. Baru setelah itu dilanjutkan salat tarawih yang 20 rakaat dengan imam yang pertama.

“Memang agak bingung, tapi sebetulnya ini sudah pernah dilakukan tahun-tahun sebelumnya, jadi ini hanya mengembalikan dari awal,” imbuh Slamet.

Menyinggung penyatuan sholat tersebut, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta, Zaenal Arifin Adnan, menyebut bahwa perubahan itu merupakan sikap toleran terhadap perbedaan pendapat. "Meskipun, cara yang lama sebenarnya juga menunjukkan hal yang sama," terangnya.

Menurutnya, masjid sebesar Masjid Agung memang harus bisa mengakomodir semua kalangan yang memiliki perbedaan pendapat. "Masing-masing memiliki dasar dan dalil yang diyakini," kata Zaenal.


Redaktur    : A. Khoirul Anam
Kontributor: Ajie Najmuddin

Pakar: Puasa Ramadhan Aman bagi Ibu Hamil


Jakarta,
Puasa Ramadhan aman bagi ibu hamil selama berat badan ibu dalam keadaan stabil dan tidak terjadi gangguan fisik, demikian disampaikan pakar Kebidanan dan Kandungan dr Taufik Jamaan SpOG.

"Selama tidak ada masalah bagi ibu dan bayi, artinya berat badannya masih baik, kondisi fisiknya bagus dan tidak memaksakan diri, puasa aman bagi ibu hamil," ujar Taufiq Jamaan di Jakarta, baru-baru ini.

Taufik mengatakan, selama kehamilan tubuh ibu mengalami berbagai macam adaptasi dalam rangka menyesuaikan diri dengan kondisi kehamilannya, dan mempersiapkan diri pada saat persalinan.

Perubahan tersebut meliputi pertambahan berat badan, metabolisme air, metabolisme protein, metabolisme karbohidrat, kondisi "kelaparan terakselerasi" dan metabolisme lemak.

"Berbagai fungsi organ ibu hamil juga mengalami perubahan selama kehamilan, baik sistem jantung dan pembuluh darah, pencernaan, pernafasan dan sistem organ yang lain," paparnya.

Dengan kondisi demikian, Taufik mengemukakan, banyak sekali penelitian yang telah dilakukan tentang pengaruh puasa dalam kehamilan.

Taufik mengatakan, sebuah penelitian Alwasel dari Universitas King Saud Arab Saudi pada 2010 tentang perubahan plasenta pada ibu hamil menunjukkan terjadi penurunan berat plasenta ibu hamil yang sedang berpuasa pada trimester kedua dan ketiga masa kehamilan.

Namun, lanjut Taufik, hal tersebut tidak memengaruhi berat lahir bayi dan kondisi kesehatan bayi secara umum, karena kondisi tersebut berbeda dengan perubahan plasenta dari ibu yang menderita penyakit kronis.

Sementara itu, penelitian di Yaman menunjukkan sekitar 90,3 persen dari 2.561 pasien hamil yang menunaikan puasa Ramadhan memperlihatkan tidak terdapat hubungan antara penurunan berat badan ibu maupun janin akibat puasa.

"Dari berbagai penelitian yang ada jelas bahwa puasa Ramadhan tidak berbahaya bagi ibu hamil. Tetapi perlu diperhatikan kondisi kehamilan itu sendiri," ungkap Taufik.

Menurut dia, ibu hamil yang sedang berpuasa sebaiknya minum air putih dua liter sehari, mengonsumsi makanan bergizi dengan kombinasi sayur dan buah, serta minum vitamin dan susu pada saat sahur dan berbuka puasa.

Namun, Taufik menambahkan, bila terjadi permasalahan terhadap kehamilan sejak awal misalnya, seperti mual, pusing dan muntah pada trimester awal atau terdapat komplikasi penyakit kronis sebelum kehamilan, hal ini akan membahayakan ibu dan janin bila menunaikan ibadah puasa Ramadhan.


Redaktur: Mukafi Niam
Sumber  : Antara

KEBUDAYAAN



Kebudayaan adalah satu hal yang tidak bisa di pisahkan karena di mana manusia itu hidup dan menetap dapat di pastikan manusia akan hidup sesuai dengan kebudayaan yang ada di daerah yang di tinggalinya. Tentunya kita tau mana yang harus di tinggalkan. Bukan berarti kita memaksa orang untuk meninggalkannya karena agama kita sendiri mengenal toleransi

 
Banyak kebudayaan yang ada di daerah – daerah terutama daerah indonesia,dan kebudayaan di daerah-daerah indonesia perlu dilestarikan agar tidak hilang begitu saja,di zaman yang sekarang mulailah kita bangsa indonesia terutama generasi muda melestarikan dan menjaga kebudayaan kita yang mulai ...

punah,janganlah kita kalah dengan budaya asing yang mulai digemari oleh generasi muda di indonesia dan sebagai orang asli indonesia harusnya kita tidak tinggal diam akan hal ini.

Cari Blog Ini

Radio

YM

IKLAN

Total Tayangan Halaman

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Bachtiar Irfansyah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by FB Bachtiar Irfan
Proudly powered by Blogger