Latest Article Menjaga Tradisi di Tengah Tantangan

Pertemuan Kiai Wahid dengan Jenderal Sudirman


Tebuireng. - Suatu hari, aku diajak K.H.A Wahid Hasyim menengok Pak Dirman, Panglima Besar. Sudah beberapa hari beliau sakit yang sangat keras.
"Saya sakit, Mas Wahid...," Pak Dirman sambil berbaring mengulurkan tangan kepada K.H.A. Wahid Hasyim.
"Semoga lekas sembuh...," sambut K.H.A. Wahid Hasyim.
"Apa kabar Saudara?" Pak Dirman memalingkan pandangannya kepadaku dan tangannya kusalami.
"Apa sakitnya Mas Dirman?" tanya K.H.A. Wahid Hasyim.
"Paru-paruku. Kata dokter, tinggal satu yang berfungsi," Pak Dirman menjawab sambil batuk-batuk. Kami semuanya diam, amat terharu aku melihat Panglima Besar yang sedang berbaring. Badannya bertambah kurus saja, dan kelihatan pucat karena kekurangan tidur. Beliau melayangkan pandangannya kepadaku sambil bertanya:
"Sudah lama kita tidak saling ketemu. Apa masih memimpin Hizbullah?"
"Pak Dirman kelewat sibuk, aku tidak sampai hati mengganggu Pak Dirman. Dan aku masih bersama anak-anak Hizbullah," jawabku.
Aku dan Pak Dirman telah lama berkenalan, sejak sebelum Jepang datang. Kami berasal dari satu daerah, Banyumas, dan sama-sama menjadi guru sekolah swasta. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan "Mas", tetapi sejak beliau menjadi Panglima Besar, rasanya panggilan "Mas" itu tak begitu sedap lagi. Sejak itu aku memakai panggilan "Pak" kepadanya. Mula-mula beliau keberatan atas perubahan ini, tetapi aku katakan, biarlah demikian, soalnya wajar saja. Aku berpikir, yang harus menghormati seorang pemimpin, mula-mula hendaklah kawannya sendiri.
"Mas Wahid, saya kira Mas baik sekali kalau datang lagi ke Bung Karno, untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya dewasa ini. Kemarin dahulu saya katakan kepada beliau tentang persoalan kita dengan Belanda. Janganlah hendaknya pemerintah meremehkan kemungkinan Belanda melakukan serbuan ke Yogya. Saya seorang militer, saya menghargai pandangan politik pemerintahan, akan tetapi padangan secara militer juga hendaknya dipertimbangkan," Pak Dirman memulai dengan pembicaraan tingkat berat. Karena yang perlu menanggapi masalah berat ini K.H.A. Wahid Hasyim, maka aku ingin menjadi seorang pendengar saja.
"Saya sudah ketemu Bung Karno, juga Bung Hatta. Saya bisa mengerti politik diplomasi pemerintah, akan tetapi diplomasi tanpa kekuatan militer hampir tak ada gunanya. Sebab itu, menurut saya, biarkan saja kalau terjadi pertempuran-pertempuran antara Belanda dan anak-anak kita, agar Belanda menyadari bahwa kita juga mempunyai kemampuan tempur. Kekuatan kita berangsur-angsur lebih dibanggakan, hal itu perlu bantuan moril dari kaum diplomat kita," demikian K.H.A. Wahid Hasyim.
"Yang sudah lama saya khawatirkan, kini benar-benar terjadi. Orang-orang komunis menusuk dengan belati di punggung kita, ketika kita sedang menghadapi Belanda. Yang saya pikirkan, bila sewaktu-waktu Belanda menyerbu ke Yogya, kekuatan militer kita jangan tercerai berai. Itu sebabnya saya perintahkan kepada Markas Besar untuk mempercepat penghancuran terhadap pemberontakan PKI di Madiun. Alhamdulillah, Tuhan merahmati perjuangan kita," Pak Dirman berhenti bicara, air matanya mulai menggenang. Kami semua terharu.
Aku sudah cukup lama duduk menyertai dua orang penting ini. Yang satu Panglima Besar dan satunya penasehatnya. Barangkali akan ada pembicaraan yang hanya berdua saja boleh tahu, maka aku permisi akan keluar sebentar dengan alasan akan telepon. Aku berada di kamar ajudan untuk mengadakan pembicaraan telepon dengan K.H. Masykur, Menteri Agama. Aku katakan kepada beliau bahwa ada sebuah pesan dari K.H.A. Wahid Hasyim agar beliau menanti di hotel "Merdeka".
Aku kira-kirakan bahwa pembicaraan empat mata sudah selesai. Aku segera masuk ke ruang tidur Pak Dirman, di mana beliau menerima kami sambil berbaring sejak tadi. Ternyata pembicaraan empat mata tinggal ekornya saja. Aku cuma menangkap pembicaraan K.H.A. Wahid Hasyim, beliau berjanji setelah menjumpai Presiden akan menemui Pak Dirman lagi di rumahnya.
Kami berpamitan. Pak Dirman memegang tanganku lama ketika kami bersalaman. Beliau meminta didoakan semoga lekas sembuh, dan meminta aku sering-sering datang. Aku sanggupi dengan ucapan Insya Allah! (KH Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-orang dari Pesantren)

Bagaimana Jika Meninggal, Namun Masih Hutang Puasa?


NU
Barang siapa meninggal dunia dan masih memiliki tanggungan kewajiban membayar puasa (qadla) karena adanya udzur syar’i (misalnya sakit), maka baginya tidak berdosa. Dan bagi ahli waris yang ditinggalkan tidak wajib membayar fidyah.Sedangkan bilamana penangguhan kewajiban membayar puasa (qadha) itu disengaja atau tanpa ada unsur udzur syar’i, maka kerabat yang ditinggalkannya berkewajiban untuk membayar fidyah bagi si mayit dengan ketentuan satu hari satu mud.

Tetapi menurut qaul qadim Imam Syafi’i dianjurkan bagi si wali mayit untuk melakukan puasa sebagai pengganti dari kewajiban yang ditingggalkan si mayit. Sebagai mana yang tertera dalam kitab Syarah Muadz-dzab, dan Imam Nawawi membenarkan dalam kitab Raudhah dengan lebih memilih pendapat qaul Qadim tersebut.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَاتَ وَ عَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ 

Dari Aisyah r.a; Rasulullah s.a.w, bersabda: siapa meninggal dunia dan ia meninggalkan kewajiban (qada)berpuasa, maka ahli warisnya diwajibkan berpuasa untuk menggantikan kewajiban puasanya”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Dan hadits yang lain menjelaskan hal yang sama dengan hadits yang diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah r.a tersebut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ امْرَاَةً قَالَتْ: يَارَسُولَ اللهِ اَنَّ اُمِّي مَاتَتْ وَ عَلَيْهَا صَوْمُ نَذْرٍ اَفَاَصُوْمُ عَنْهَا ؟ قَالَ: اَرَاَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى اُمِّكِ دَيْنٌ فَقَضَيْتُهُ اَكَانَ يُؤَدِّى ذَلِكَ عَنْهَا ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ فَصُوْمِى عَنْ اُمِّكِ 
Dari Ibnu Abbas r.a: sesungguhnya ada seorang perempuan telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w: “ya Rasulullah s.a.w, sesungguhnya ibuku telah meninggal duniam dan ia meninggalkan keajiban puasa nadzar yang belum sempat ia tunaikan, apakah aku boleh berpuasa untuk menggantikannya?” rasulullah s.a.w, menjawab;”apakah pendapatmu, kalau seandainya ibumu mempunya hutang, dan kamu membayarnya. Apakah hutangnya terbayarkan?”. Perempuan tadi, menjawab: “ia”. Dan Nabi s.a.w, bersabda: “berpuasalah untuk ibumu”. (Hadits Shahih, riwayat Muslim).

Umat Islam dan Kristen di Mesir Buka Puasa Bersama



TEMPO.COKairo - Ribuan masyarakat Mesir mengikuti acara buka puasa bersama di Tahrir Square, Jumat, 12 Juli 2013. Bukan hanya umat Muslim saja yang menghadiri perhelatan itu, pemeluk Kristen pun hadir di sana. Mereka bersama-sama merayakan Jumat pertama di bulan Ramadan.
Tahrir Square adalah tempat penting bagi penduduk Mesir, terutama dalam kegiatan politik. Tahrir Square dipakai sebagai tempat berkumpulnya oposisi Presiden Mursi, pemimpin Mesir yang digulingkan tentara pada 3 Juli 2013. Dan juga sebagai tempat lahirnya pemberontakan penggulingan Presiden Hosni Mubarak pada 2011.
Kali ini, umat Islam dan Kristen Mesir pun tidak hanya berbuka puasa bersama di Tahrir Square. Mereka pun menunjukkan dukungannya akan usaha penggulingan Mursi. Kata seorang peserta buka puasa di Tahrir Square, Fareg Girgis Abdul-Masih, "Kami semua bersaudara, Muslim, Kristen, semuanya bersatu. Dan semoga Tuhan selalu memberikan kebaikan kepada kita."
Di Kairo, puluhan pendukung Mursi menuntut pemulihan kedudukannya. Mereka menyatakan Mursi baru satu tahun menjalankan tugasnya sebagai kepala negara. Penggulingannya melalui kudeta militer dapat mengancam serta menggoyahkan transisi Mesir menuju negara demokrasi.
Sementara menurut kritikus Mesir, Ashraf Ali Hasan, Mursi tidaklah memerintah Mesir dengan demokratis. Bahkan, kebijakannya dianggap non-demokrasi.
"Mursi mengancam Mesir terperosok ke dalam kekacauan politik dan krisis ekonomi," ujarnya.,

Tinju Berdarah Menewaskan 18 Orang di Nabire



Javanews.co, Jakarta – Korban tinju “berdarah” bertambah satu, maka jumlah keseluruhan sebanyak 18 orang tewas dan 47 orang terluka dalam pertandingan final Tinju Bupati Nabire Cup yang digelar di Gedung Olahraga (GOR) Kota Lama Nabire, Papua Barat, Minggu malam (14/7).
Kejadian ini berawal karena finalis yang kalah tidak menerima kekalahan tipis dengan perhitungan angka. Pertandingan final mempertemukan Yulius Pigome dari Sasana Mawa dan Alvius Rumkorem dari sasana Persada. Sabuk juara dimenangkan Alvius dalam kelas 58 kilogram. Hasil pertandingan inilah yang memicu kerusuhan sehingga jatuhnya korban jiwa.
Korban yang luka saat ini masih dirawat intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Siriwini, Nabire. Sementara lokasi GOR termasuk juga rumah bupati dan RSUD masih dikawal ketat pihak keamanan.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Papua Kombes (Pol) I Gede Sumerta Jaya SIK mengatakan, kerusuhan ini terjadi sekira pukul 23.00 WIT setelah pertandingan tinju.n

Jumlah Rakaat dan Do'a Shalat Tarawih





Sayyidah Aisyah r.a, menerangkan bahwa Rasulullah s.a.w, melaksanakan shalat malam termasuk di dalamnya shalat tarawih dengan sebelas rakaat; delapan rakaat tarawih atau tahajud dan tiga rakaat witir.
Riwayat aisyah r.a, yang kedua menyebutkan bahwa Nabi melaksanakan shalat malam tiga belas rakaat; delapan rakaat tarawih atau tahajjud dan lima rakaat witir.Dari kedua riwayat tersebut dapat diambil suatu pemahaman, bahwa jumlah rakaat shalat malam atau shalat tarawih tidak harus sebelas rakaat, bisa juga lebih misalnya tiga belas rakaat, seperti disebutkan dalam riwayat Aisyah r.a, yang kedua.
Dengan demikian yang dimaksud dari riwayat Aisyah r.a, yang menyebutkan bahwa Nabi s.a.w, tidak pernah shalat malam lebih dari sebelas rakaat, baik dalam bulan Ramadhan atau bulan-bulan lain, tidak berarti tidak boleh lebih ari sebelas rakaat.
Apabila dikompromikan dengan riwayat-riwayat lain seperti riwayat Ibnu Umar r.a, yang menyebutkan bahwa shalat malam itu dua rakaat – dua rakaat tanpa menyebutkan jumlahnya, hanya kalau khawatir masuk shubuh segera melaksanakan witir satu rakaat, menunjukkan bahwa jumlah rakaat shalat tarawih atau shalat malam tidak harus sebelas, tetapi boleh lebih dari jumlah tersebut. Apalghi kalau dipadukan dengan kenyataan yang dilakukan para sahabat Nabi dan para tabi’in, mereka mengerjakan shalat tarawih dengan 20 rakaat , tiga witir dan ada pula yang mengerjakan sampai 36 rakaat dan 40 rakaat.

Berkata Yazid bin Ruman: “Di zaman Umar bin Khattab, orang-orang melaksanakan shalat malam di bulan ramadhan (shalat tarawih) dengan 23 rakaat “ (H.R. Imam Muslim). Ibnu Abbas melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan 20 rakaat dan witir, dengan tidak berjamaah. (H.R. Baihaqy).

Berkata Atho’:“Aku jumpai mereka (para sahabat) mengerjakan shalat pada (malam-malam) Ramadhan 23 rakaat dan 3 witir”. (H.R. Muhammad bin Nashir).

Berkata Daud bin Qais: “Aku jumpai orang-orang di zaman Abas bin Utsman bin Abdul Aziz (di Madinah), mereka shalat 36 rakaat dan mereka bershalat witir 3 rakaat “. (H.R. Muhammad bin Nashir).

Imam Malik menjelaskan: “Perkara shalat (tarawih) di antara kami (di Madinah) dengan 39 rakaat , dan di Makkah 23 rakaat tidak ada suatu kesulitanpun (tidak ada masalah) dalam hal itu”. Al- Tirmidzi menjelakan: “sebanyak-banyak (rakaat) yang diriwayatkan, bahwa Imam Malik shalat 41 rakaat dengan witir”. (Bidayatul Hidayah, Ibn Rusyd, hal.152. bandingkan dengan A. Hasan, Pengajaran Shalat, hal. 290-192).

Pada masa Umar Ibn Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thallib r.a, shalat tarawih dikerjakan sebanyak 20 rakaat dan 3 rakaat untuk shalat witir. Para ulama Jumhur (mayoritas) juga menetapkan jumlah shalat tarawih seperti itu, demikian juga al-Tsauri, Ibn al-Mubarok dan al-Syafi’i. Imam Malik memetapkam bilangan shalat tarawih sebanyak 36 rakaat dan 3 rakaat untuk shalat witir. Ibnu Hubban menjelaskan, bahwa shalat tarawih pada mulanya adalah sebelas rakaat. Para ulama salaf mengerjakan shalat itu dengan memanjangkan bacaan, kemudian dirasakan berat, lalu mereka meringankan bacaannya dengan menambah rakaat menjadi 20 rakaat, tidak termasuk witir. Ada lagi yang lebih meringankan bacaannya sedangkan rakaatnya ditetapkan menjadi 36 rakaat, selain witir”. (Hasby As-Shiddiqy, Pedoman Shalat, hal. 536-537).

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Malik dari Abdurrahman bin Abd Qadri:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ الْقَارِي اَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَبْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِى رَمَضَانَ اِلَى الْمَسْجِدِ فَاِذَا النَّاسُ اَوْزَاعَ مُتَفَرِّقُوْنَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ اِنِّي اَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ اَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى اُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً اُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّوْنَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ... 

“Abdurrahman bin Abd al-Qadri menceritakan padaku, “aku keluar bersama Umar pada suatu malam di bulan RAmadhan, di masjid Beliau menjumpai banyak orang dalam beberapa kelompok; ada yang sedang melaksanakan shalat sendirian dan ada yang diikuti beberapa orang. Melihat hal itu Umar barkata: “aku berfikir lebih baik aku mengumpulkam mereka dengan satu orang Imam. Setelah itu Beliau memerintahkan Ubay bin Ka’ab r.a, supaya menjadi imam bagi mereka. Pada malam berikutnya aku keluar bersama Umar lagi dan ia melihat orang-orang melaksanakan shalat dengan cara berjama’ah dengan imam Ubay bin Ka’ab r.a, (memperhatikan kegiatan shalat itu), Umar berkata: “inilah sebaik-baik bid’ah”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari:1817 dan Malik:231).

Memperhatikan uraian di atas menurut hemat penulis, shalat Tarawih bisa dilakukandengan jumlah rakaat sebagai berikut:1. Sebelas rakaat, delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat witir, atau sepuluh rakaat Tarawih dan satu raakaat Witir.2. Dua puluh rakaat Tarawih dengan tiga rakaat Witir.3. Dan tiga puluh enam Tarawih dan tiga rakaat witir.Dari ketiga jumlah di atas, kita boleh memilih satunya sesuai sesuai dengan kondisi dan kemampuan kita masing-masing, tanpa memaksakan diri atau memberatkan

adapun do’a Shalat Tarawih

أَللَّهُمَّ اجْعَلْ بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ وَلِلْفَرَئِضِ مُؤَدّيِنَ وَلِلصَّلَاةِ حَافِظِيْنَ وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ وَلِمَاعِنْدَكَ طَالِبِيْنَ وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ وَبِالْهُدَى مُتَّسِكِيْنَ وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ وَفِى الْآ خِرَةِ رَاغِبِيْنَ وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنِ وَلِلنَّعْمَاءِ الشَّاكِرِيْنَ وَعَلَى الْبَلَاءِ صَابِرِيْنَ وَتَحْتَ لِوَاءِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَاِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ وَ فِى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ وَعَلَى سَرِيْرِ الْكَرَمَةِ قَاعِدِيْنَ وَمِنْ حُوْرِعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِسِيْنَ وَاِلَى طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفَّيْنِ شَارِبِيْنَ بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مَنْ مَعِيْنٍ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مَنِ النَّبِيِيْنَ وَالصِّدِّقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيْقًا ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِى هَذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ  وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ اْلَأْشقِيَاِء الْمَرْدُوْدِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُلِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
“Wahai Allah, jadikanlah kami orang-orang yang imannya sempurna, dapat menunaikan segala fardhu, memelihara shalat, menegeluarkan zakat, mencari kebaikan di sisi-Mu, senantiasa memegang teguh petunjuk-petunjukMu, terhindar dari segala penyelewengan-penyelewengan, zuhud akan harta benda, mencintai amal untuk  bekal di akhirat, tabah menerima ketetapanMu, mensyukuri segala nikmatMu, tabah dalam menghadapi cobaan,dan semoga nanti pada hari kiamat kami dalam satu barisan dibawah panji-panji Nabi Muhammad s.a.w, dan sampai pada telaga yang sejuk, masuk dalam surge, selamat dari api neraka, dan duduk di atas permadani yang indah bersama para bidadari, berpakaian sutra, menikmati makanan surge, meminum susu dan madu yang murni dengan gelas, ceret dan sloki (yang diambil ) dari air yang mengalir bersama orang-orang yang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka dari golongan para Nabi, orang-orang jujur, para shuhada dan orang-orang yang shalih. Merekalah teman yang terbaik. Demikianlah karunia Allah s.w.t, dan cukuplah Allah yang mengetahui. Wahai Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan penuh berkah ini menjadi orang yang berbahagia dan diterima (amal ibadahnya). Dan janganlah Engkau jadikan kami sebagaian dari orang-orang yang sengsara dan ditolak (amal ibadahnya). Semoga Allah senantiasa melimpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada NAbi besar Muhammad s.a.w, beserta keluarga dan segenap sahabatnya. Segala puji milik Allah, Tuhan seru sekalian alam”.
(Penulis: KH. Syaifullah Amin/Red: Ulil H.)

Shalat Ied Berdarah


Dalam situasi politik yang semakin memanas di seluruh negeri, Soekarno sempat bersitegang dengan DPR hingga akhirnya Presiden membubarkan lembaga perwakilan rakyat hasil pemilu tersebut dan membentuk DPR-GR (Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong). Partai Islam Masyumi juga diberangus sehingga praktis tinggal NU partai besar Islam yang tinggal.

Zainul Arifin menerima penunjukan sebagai Ketua DPRGR karena yakin untuk mengadang gerakan komunisme di pemerintahan adalah dengan tetap berada di dalam sistem pemerintahan yang sedang berlangsung. Hingga 14 Mei 1962, ketika sedang melakukan shalat Idul Adha berjamaah sederetan dengan Presiden di lapangan terbuka depan Istana Negara. Pada saat itu yang bertindak sebagai Imam adalah KH Idham Chalid (Ketua Umum PBNU). Arifin terkena tembakan di dadanya oleh pemberontak DI/TII yang mencoba membunuh Soekarno.

Penembak berasal dari barisan ketiga yang menodongkan pistol ketika melakukan gerakan bangkit dari ruku' (sembari membaca sami'allahu liman hamidah). Pelaku mengambil senjata ketika ruku' dan langsung meletupkan pistolnya ke arah Presiden Soekarno. Namun beberapa pengawal presiden sempat menepis tangan sang penembak, sehingga arah peluru kemudian melenceng dan justru mengenai Zainul Arifin yang berada di samping Soekarno. Zainul Arifin kemudian tersungkur akibar peluru yang mengarah dari bahu hingga memutuskan dasi di dadanya. Zainul Arifin kemudian di dilarikan ke RSPAD Gatot Soebroto dan dirawat di sana hingga sepuluh bulan kemudian. Sejak insiden ini Presiden Soekarno tidak pernah lagi melaksanakan sholat berjamaah di lapangan terbuka.

Meskipun media massa dalam melaporkan kejadian itu menyatakan Arifin hanya "terluka sangat ringan", namun nyatanya kesehatan Zainul tidak pernah pulih sejak insiden tersebut. Berkali-kali ia keluar masuk rumah sakit dan sepuluh bulan kemudian, tepatnya 2 Maret 1963, akhirnya meninggal dunia setelah mengalami koma selama beberapa hari sebelumnya karena berbagai komplikasi. Keesokan harinya di bawah guyuran hujan lebat, jasadnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata di Jakarta.

KH. Zainul Arifin meninggalkan 2 orang isteri dan seorang mantan isteri yang telah diceraikan semasa hidupnya, dan 21 orang anak. Kenyataan ini sekaligus sebagai klarifikasi anak-anak KH Zainul Arifin dari istri pertamanya, agar tidak terdapat salah pengertian dari keturunan-keturunan KH Zainul Arifin dari kedua isteri yang lainnya. (Oleh: Ario Helmy, cucu dari Isteri pertama)  --NUonline--

Biografi SYEIKH NAWAWI





Nasab (keturunan) Imam an-Nawawi
Beliau adalah al-Imam al-Hafizh, Syaikhul Islam, Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Mury bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam an-Nawawi ad-Dimasyqi asy-Syafi’i. Kata ‘an-Nawawi’ dinisbahkan kepada sebuah perkampungan yang bernama ‘Nawa’, salah satu perkampungan di Hauran, Syiria, tempat kelahiran beliau. Beliau dianggap sebagai syaikh  di dalam madzhab Syafi’i dan ahli fiqh terkenal pada zamannya.

Kelahiran dan Lingkungannya
Beliau dilahirkan pada Bulan Muharram tahun 631 H di perkampungan ‘Nawa’ dari dua orang tua yang shalih. Ketika berusia 10 tahun, beliau sudah memulai hafal al-Qur’an dan membacakan kitab Fiqh pada sebahagian ulama di sana. Proses pembelajaran ini di kalangan Ahli Hadits lebih dikenal dengan sebutan ‘al-Qira`ah’.
Suatu ketika, secara kebetulan seorang ulama bernama Syaikh Yasin bin Yusuf al-Marakisyi melewati perkampungan tersebut dan menyaksikan banyak anak-anak yang memaksa ‘an-Nawawi kecil’ untuk bermain, namun dia tidak mahu bahkan lari dari kejaran mereka dan menangis sambil membaca al-Qur’an. Syaikh ini kemudian menghantarkannya kepada ayahnya dan menasihati sang ayah agar mengarahkan anaknya tersebut untuk menuntut ilmu. Sang ayah setuju dengan nasihat ini.
Pada tahun 649 H, an-Nawawi, dengan dihantar oleh sang ayah, tiba di Damaskus dalam rangka melanjutkan studinya di Madrasah Dar al-Hadits. Dia tinggal di al-Madrasah ar-Rawahiyyah yang menempel pada dinding masjid al-Umawy dari sebelah timur. Pada tahun 651 H, dia menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, lalu pulang kembali ke Damaskus.
Pengalaman Intelektualnya
Pada tahun 665 H saat baru berusia 34 tahun, beliau sudah menduduki posisi ‘Syaikh’ di Dar al-Hadits dan mengajar di sana. Tugas ini tetap dijalaninya hingga beliau wafat.
Dari sisi pengalaman intelektualnya setelah bermukim di Damaskus terdapat tiga karakteristik yang sangat menonjol:
Pertama, Kegigihan dan Keseriusan-nya di dalam Menuntut Ilmu Sejak Kecil hingga meningkat Remaja.
Ilmu adalah segala-galanya bagi an-Nawawi sehingga dia merasakan kenikmatan yang tiada tara di dalamnya. Beliau amat serius ketika membaca dan menghafal. Beliau berhasil menghafal kitab ‘Tanbih al-Ghafilin’ dalam waktu empat bulan setengah.
Sedangkan waktu yang tersisa lainnya dapat beliau gunakan untuk menghafal seperempat permasalahan ibadat dalam kitab ‘al-Muhadz-dzab’ karya asy-Syairazi. Dalam tempoh yang relatif singkat itu pula, beliau telah berhasil membuat decak kagum sekaligus meraih kecintaan gurunya, Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad al-Maghriby, sehingga menjadikannya sebagai wakilnya di dalam halaqah pengajian yang dia pimpin bilamana berhalangan.
Kedua, Keluasan Ilmu dan Wawasannya
Mengenai bagaimana beliau memanfa’atkan waktu, seorang muridnya, ‘Ala`uddin bin al-‘Aththar bercerita, “Pertama beliau dapat membacakan 12 pelajaran setiap harinya kepada para Syaikhnya beserta syarah dan tash-hihnya; kedua, pelajaran terhadap kitab ‘al-Wasith’, ketiga terhadap kitab ‘al-Muhadzdzab’, keempat terhadap kitab ‘al-Jam’u bayna ash-Shahihain’, kelima terhadap kitab ‘Shahih Muslim’, keenam terhadap kitab ‘al-Luma’ ‘ karya Ibnu Jinny di dalam ilmu Nahwu, ketujuh terhadap kitab ‘Ishlah al-Manthiq’ karya Ibnu as-Sukait di dalam ilmu Linguistik (Bahasa), kelapan di dalam ilmu Sharaf, kesembilan di dalam ilmu Ushul Fiqh, kesepuluh terkadang terhadap kitab ‘al-Luma’ ‘ karya Abu Ishaq dan terkadang terhadap kitab ‘al-Muntakhab’ karya al-Fakhrur Razy, kesebelas di dalam ‘Asma’ ar-Rijal’, keduabelas di dalam Ushuluddin. Beliau selalu menulis syarah yang sulit dari setiap pelajaran tersebut dan menjelaskan kalimatnya serta meluruskan ejaannya”.
Ketiga, Produktif di dalam Menelurkan Karya Tulis
Beliau telah berminat terhadap dunia tulis-menulis dan menekuninya pada tahun 660 H saat baru berusia 30-an.
Dalam karya-karya beliau tersebut akan didapati kemudahan di dalam mencernanya, keunggulan di dalam argumentasinya, kejelasan di dalam kerangka berfikirnya serta keobjektifan-nya di dalam memaparkan pendapat-pendapat Fuqaha‘.
Buah karyanya tersebut hingga saat ini selalu menjadi bahan perhatian dan diskusi setiap Muslim serta selalu digunakan sebagai rujukan di hampir seluruh belantara Dunia Islam.
Di antara karya-karya tulisnya tersebut adalah ‘Syarh Shahih Muslim’, ‘al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab’, ‘Riyadh ash-Shalihin’, ‘ al-Adzkar’, ‘Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat’ ‘al-Arba’in an-Nawawiyyah’, ‘Rawdhah ath-Thalibin’ dan ‘al-Minhaj fi al-Fiqh’.
Budi Pekerti dan Sifatnya
Para pengarang buku-buku ‘biografi’ (Kutub at-Tarajim) sepakat, bahawa Imam an-Nawawi merupakan hujung tombak di dalam sikap hidup ‘zuhud’, teladan di dalam sifat wara’ serta tokoh tanpa tanding di dalam ‘menasihati para penguasa dan beramar ma’ruf nahi munkar’.
  • ZuhudBeliau hidup bersahaja dan mengekang diri sekuat tenaga dari kongkongan hawa nafsu. Beliau mengurangi makan, sederhana di dalam berpakaian dan bahkan tidak sempat untuk menikah. Kenikmatan di dalam menuntut ilmu seakan membuat dirinya lupa dengan semua kenikmatan itu. Beliau seakan sudah mendapatkan gantinya.
    Di antara indikatornya adalah ketika beliau pindah dari lingkungannya yang terbiasa dengan pola hidup ‘seadanya’ menuju kota Damaskus yang ‘serba ada’ dan penuh glamour. Perpindahan dari dua dunia yang amat kontras tersebut sama sekali tidak menjadikan dirinya tergoda dengan semua itu, bahkan sebaliknya semakin menghindarinya.
     
  • Wara’Bila membaca riwayat hidupnya, maka akan banyak sekali dijumpai sifat seperti ini dari diri beliau. Sebagai contoh, misalnya, beliau mengambil sikap tidak mahu memakan buah-buahan Damaskus kerana merasa ada syubhat tentang kepemilikan tanah dan kebun-kebunnya di sana.
    Contoh lainnya, ketika mengajar di Dar al-Hadits, beliau sebenarnya menerima gaji yang cukup besar, tetapi tidak sedikit pun diambilnya. Beliau justeru mengumpulkannya dan menitipkannya pada kepala Madrasah. Setiap mendapatkan jatah tahunannya, beliau membeli sebidang tanah, kemudian mewakafkannya kepada Dar al-Hadits. Atau membeli beberapa buah buku kemudian mewakafkannya ke perpustakaan Madrasah. Beliau tidak pernah mahu menerima hadiah atau pemberian, kecuali bila memang sangat memerlukannya sekali dan ini pun dengan syarat. Iaitu, orang yang membawanya haruslah diri yang sudah beliau percayai diennya.
    Beliau juga tidak mahu menerima sesuatu, kecuali dari kedua orang-tuanya atau kerabatnya. Ibunya selalu mengirimkan baju atau pakaian kepadanya. Demikian pula, ayahnya selalu mengirimkan makanan untuknya.
    Ketika berada di al-Madrasah ar-Rawahiyyah, Damaskus, beliau hanya mahu tidur di kamar yang disediakan untuknya saja di sana dan tidak mahu diistimewakan atau diberikan fasiliti yang lebih dari itu.
     
  • Menasihati Penguasa dalam Rangka Amar Ma’ruf Nahi MunkarPada masanya, banyak orang datang mengadu kepadanya dan meminta fatwa. Beliau pun dengan senang hati menyambut mereka dan berupaya seoptimal mungkin mencarikan solusi bagi permasalahan mereka, sebagaimana yang pernah terjadi dalam kes penyegelan terhadap kebun-kebun di Syam.
    Kisahnya, suatu ketika seorang sultan dan raja, bernama azh-Zhahir Bybres datang ke Damaskus. Beliau datang dari Mesir setelah memerangi tentara Tartar dan berhasil mengusir mereka. Saat itu, seorang wakil Baitul Mal mengadu kepadanya bahawa kebanyakan kebun-kebun di Syam masih milik negara. Pengaduan ini membuat sang raja langsung memerintahkan agar kebun-kebun tersebut dipagari dan disegel. Hanya orang yang mengakui kepemilikannya di situ saja yang diperkenankan untuk menuntut haknya asalkan menunjukkan bukti, iaitu berupa sijil kepemilikan.
    Akhirnya, para penduduk banyak yang mengadu kepada Imam an-Nawawi di Dar al-Hadits. Beliau pun menanggapinya dengan langsung menulis surat kepada sang raja. Sang Sultan gusar dengan keberaniannya ini yang dianggap sebagai sebuah kelancangan. Oleh kerana itu, dengan serta merta dia memerintahkan bawahannya agar memotong gaji ulama ini dan memberhentikannya dari kedudukannya. Para bawahannya tidak dapat menyembunyikan kehairanan mereka dengan menyeletuk, “Sesungguhnya, ulama ini tidak memiliki gaji dan tidak pula kedudukan, paduka !!”.
    Menyedari bahawa hanya dengan surat saja tidak mampan, maka Imam an-Nawawi langsung pergi sendiri menemui sang Sultan dan menasihatinya dengan ucapan yang keras dan pedas. Rupanya, sang Sultan ingin bertindak kasar terhadap diri beliau, namun Allah telah memalingkan hatinya dari hal itu, sehingga selamatlah Syaikh yang ikhlas ini. Akhirnya, sang Sultan membatalkan masalah penyegelan terhadap kebun-kebun tersebut, sehingga orang-orang terlepas dari bencananya dan merasa tenteram kembali.
Wafatnya
Pada tahun 676 H, Imam an-Nawawi kembali ke kampung halamannya, Nawa, setelah mengembalikan buku-buku yang dipinjamnya dari badan urusan Waqaf di Damaskus. Di sana beliau sempat berziarah ke kuburan para syaikhnya. Beliau tidak lupa mendo’akan mereka atas jasa-jasa mereka sambil menangis. Setelah menziarahi kuburan ayahnya, beliau mengunjungi Baitul Maqdis dan kota al-Khalil, lalu pulang lagi ke ‘Nawa’. Sepulangnya dari sanalah beliau jatuh sakit dan tak berapa lama dari itu, beliau dipanggil menghadap al-Khaliq pada tanggal 24 Rajab pada tahun itu. Di antara ulama yang ikut menyalatkannya adalah al-Qadhy, ‘Izzuddin Muhammad bin ash-Sha`igh dan beberapa orang shahabatnya. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat-Nya yang luas dan menerima seluruh amal shalihnya. Amin.

(Diambil dari pengantar kitab Nuzhah al-Muttaqin Syarh Riyadh ash-Shalihin karya DR. Musthafa Sa’id al-Khin, et.ali, Jld. I, tentang biografi Imam an-Nawawiy)

Malam hari Ramadhan sama Suami Istri



Jalalain

Al Baquroh ayat 187
{ أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصيام الرفث } بمعنى الإفضاء { إلى نِسَائِكُمْ } بالجماع ، نزل نسخاً لما كان في صدر الإسلام من تحريمه وتحريم الأكل والشرب بعد العشاء { هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ } كناية عن تعانقهما أو احتياج كل منهما إلى صاحبه { عَلِمَ الله أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ } تخونون { أَنفُسَكُمْ } بالجماع ليلة الصيام وقع ذلك لعمر وغيره واعتذروا إلى النبي صلى الله عليه وسلم { فَتَابَ عَلَيْكُمْ } قبل توبتكم { وَعَفَا عَنكُمْ فالئان } إذ أُحل لكم { باشروهن } جامعوهن { وابتغوا } اطلبوا { مَا كَتَبَ الله لَكُمْ } أي أباحه من الجماع أو قدره من الولد { وَكُلُواْ واشربوا } الليل كله { حتى يَتَبَيَّنَ } يظهر { لَكُمُ الخيط الأبيض مِنَ الخيط الأسود مِنَ الفجر } أي الصادق بيان للخيط الأبيض وبيان الأسود محذوف أي من الليل شُبِهَ ما يبدو من البياض وما يمتد معه من الغبش بخيطين أبيض وأسود في الامتداد { ثُمَّ أَتِمُّواْ الصيام } من الفجر { إلىليل } أي إلى دخوله بغروب الشمس { وَلاَ تباشروهن } أي نساءكم { وَأَنتُمْ عاكفون } مقيمون بنيّة الاعتكاف { فِي المساجد } متعلق ( بعاكفون ) نهيٌ لمن كان يخرج وهو معتكف فيجامع امرأته ويعود { تِلْكَ } الأحكام المذكورة { حُدُودُ الله } حدّها لعباده ليقفوا عندها { فَلاَ تَقْرَبُوهَا } أبلغ من «لا تعتدوها» المعبر به في آية أخرى { كذلك } كما بيَّن لكم ما ذكر { يُبَيّنُ الله آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ } محارمه .
187. (Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa berkencan dengan istri-istrimu) maksudnya mencampuri mereka. Ayat ini turun menasakhkan hukum yang berlaku di masa permulaan Islam, berupa pengharaman mencampuri istri, begitu pula diharamkan makan minum setelah waktu Isyak. (Mereka itu pakaian bagi kamu dan kamu pakaian bagi mereka) kiasan bahwa mereka berdua saling bergantung dan saling membutuhkan. (Allah mengetahui bahwa kamu akan berkhianat pada) atau mengkhianati (dirimu) dengan melakukan jimak atau hubungan suami istri pada malam hari puasa. Hal itu pernah terjadi atas diri Umar dan sahabat lainnya, lalu ia segera memberitahukannya kepada Nabi saw., (maka Allah pun menerima tobatmu) yakni sebelum kamu bertobat (dan dimaafkan-Nya kamu. Maka sekarang) karena telah dihalalkan bagimu (campurilah mereka itu) (dan usahakanlah) atau carilah (apa-apa yang telah ditetapkan Allah bagimu) artinya apa yang telah diperbolehkan-Nya seperti bercampur atau mendapatkan anak (dan makan minumlah) sepanjang malam itu (hingga nyata) atau jelas (bagimu benang putih dari benang hitam berupa fajar sidik) sebagai penjelasan bagi benang putih, sedangkan penjelasan bagi benang hitam dibuang, yaitu berupa malam hari. Fajar itu tak ubahnya seperti warna putih bercampur warna hitam yang memanjang dengan dua buah garis berwarna putih dan hitam. (Kemudian sempurnakanlah puasa itu) dari waktu fajar (sampai malam) maksudnya masuknya malam dengan terbenamnya matahari (dan janganlah kamu campuri mereka) maksudnya istri-istri kamu itu (sedang kamu beriktikaf) atau bermukim dengan niat iktikaf (di dalam mesjid-mesjid) seorang yang beriktikaf dilarang keluar mesjid untuk mencampuri istrinya lalu kembali lagi. (Itulah) yakni hukum-hukum yang telah disebutkan tadi (larangan-larangan Allah) yang telah digariskan-Nya bagi hamba-hamba-Nya agar mereka tidak melanggarnya (maka janganlah kami mendekatinya). Kalimat itu lebih mengesankan dari kalimat "janganlah kamu melanggarnya" yang diucapkan pada ayat lain. (Demikianlah sebagaimana telah dinyatakan-Nya bagi kamu apa yang telah disebutkan itu (Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya bagi manusia supaya mereka bertakwa) maksudnya menjauhi larangan-Nya.

Puasa, Meraih Predikat Muttaqin



NU
Setiap tahun terdapat satu bulan yang multi bonus, Ramadhan. Namun, apakah benar kita menyambut antusias terhadap datangnya bulan penuh berkah ini? Atau kita menyambutnya biasa-biasa saja tanpa ada ekspresi bahagia?
Dijelaskan bahwa predikat yang diperoleh oleh orang yang berpuasa adalah takwa, menjadi Muttaqin. Seorang muttaqin merupakan orang yang selalu mengerjakan apa-apa yang diperintahkan oleh allah dan menjauhi segala larangannya.
Bagaimana meraih Predikat muttaqin dalam berpuasa? Coba kita tengok ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bagaimana predikat muttaqin melekat kepada orang yang bertaqwa, yaitu: 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)
Ibadah puasa adalah salah satu perintah yang meminta pengorbanan kesenangan diri dan kebiasaan tiap hari. Kalau perintah tidak dijatuhkan kepada orang yang beriman tidaklah akan berjalan.
Imam Ath Thabari menegaskan bahwa ayat ini ditujukan untuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, membenarkan keduanya dan mengikrarkan keimanan kepada keduanya. Ibnu Katsir menyatakan, firman Allah Ta’ala ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman dari umat manusia.
Dari ayat ini kita melihat dengan jelas adanya kaitan antara puasa dengan keimanan seseorang. Allah Ta’ala memerintahkan puasa kepada orang-orang yang memiliki iman, dengan demikian Allah Ta’ala pun hanya menerima puasa dari jiwa-jiwa yang terdapat iman di dalamnya. Dan puasa juga merupakan tanda kesempurnaan keimanan seseorang.
Dari penjelasan di atas juga dapat dipahami bahwa peraturan puasa bukanlah peraturan yang baru dibuat setelah Nabi, melainkan sudah diperintahkan juga kepada umat-umat terdahulu meskipun kitab Taurat tidak menerangkan peraturan puasa sampai kepada hal yang terkecil, namun didalamnya ada pujian dan anjuran kepada setiap orang agar berpuasa.
Puasa merupakan syariat yang penting di dalam tiap-tiap agama, mskipun ada perubahan-perubahan dari hari ataupun bulan. Setelah Rasulullah SAW diutus ditetapkanlah puasa bagi umat Islam pada bulan Ramadhan dan dianjurkan pula menambah (tathawwu’) dengan hari-hari yang lain.
Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan hikmah disyariatkannya puasa seraya berfirman, {لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ} "Agar kamu bertakwa," karena sesungguhnya puasa itu merupakan salah satu faktor penyebab ketakwaan, karena berpuasa adalah merealisasikan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Dan di antara gambaran yang meliputi ketakwaan dalam puasa itu adalah bahwa orang yang berpuasa akan meninggalkan apa yang diharamkan oleh Allah seperti makan, minum, melakukan jima' dan semacamnya. Semua itu adalah hal-hal yang biasanya dihalalkan dan diinginkan oleh nafsunya. Namun saat berpuasa, ia menahan diri dan menghindarinya dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah seraya mengharapkan pahala.
Inilah hal yang merupakan ketakwaan, di antaranya juga sebagai gambaran bahwasanya orang yang berpuasa itu melatih dirinya dengan selalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala, maka meninggalkan apa yang diinginkan oleh nafsunya padahal dia mampu melakukannya karena dia tahu bahwa Allah melihatnya. 
Orang yang berpuasa harus menjauhkan diri dari yang diharamkan oleh Allah berupa makan, minum, bersetubuh dan semisalnya. Padahal jiwa manusia memiliki kecenderungan kepada semua itu. Ia meninggalkan semua itu demi mendekatkan diri kepada Allah, dan mengharap pahala dari-Nya. Ini semua merupakan bentuk taqwa’.
Orang yang berpuasa akan melatih dirinya untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan menjauhi hal-hal yang disukai oleh nafsunya. Sebetulnya ia mampu untuk makan, minum atau berjima’ dengan suami/istinya tanpa diketahui orang, namun ia meninggalkannya karena sadar bahwa Allah mengawasinya.
Dari itu, mari menata kembali niat untuk mengarungi bulan penuh berkah ini, guna memperoleh predikat muttaqin seperti yang kita inginkan bersama.

* Mahrus Sholeh
Alumni Pondok Pesantren Sabilal Muhtadin dan Nurul Jadid, masih menempuh pendidikan di Jurusan Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin IAIN SunanAmpel Surabaya


>>>TAUSHIYAH RAMADHAN INI DIDUKUNG OLEH
PIMPINAN PUSAT IKATAN SARJANA NAHDLATUL ULAMA (ISNU)

Mengaji Kitab Kuning, Mempertahankan Eksistensi Pesantren



Kediri, NU
Kitab kuning identik dengan pesantren. Di Indonesia, kitab kuning digunakan sebagai buku wajib di pondok yang juga disebut kitab salaf, yang artinya klasik atau kuno.

Mengaji kitab kuning sudah menjadi aktivitas sehari-hari yang dilakukan para santri. Bukan hanya di bulan-bulan biasa, juga di bulan Ramadhan seperti saat ini. Libur panjang yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam aktivitas, dimanfaatkan untuk "ngaji kilatan". Disebut ngaji kilatan, kerena kegiatan ini berlangsung hanya Ramadhan, dan pengkajian kitab pun dikebut.

Sampai saat ini memang belum ada kajian khusus tentang asal kitab kuning. Kitab yang identik dengan kitab gundul (karena memang tidak ada harakatnya) ini sudah ada sejak dulu. Dan, di Indonesia, kitab ini menjadi acuan dalam kegiatan pengajian di pondok-pondok salaf.

Kitab kuning tidak dapat dipelajari dalam waktu instan. Karena kitab ini tidak ada harakatnya, membuat pendalaman kitab berlangsung dalam rentang yang cukup lama, sampai bertahun-tahun.

Para santri harus memahami isi kitab kuning, dengan belajar Tata Bahasa Arab, seperti Ilmu Nahwu, Ilmu Shorrof, sampai Ilmu Mantiq, dan sejumlah cabang ilmu lainnya. Ilmu itu masih dasar, dan harus didalami dengan mengikuti kajian kitab yang dipimpin oleh pengasuh ataupun santri senior lainnya.

Metode pengajian di pondok biasanya berlangsung dengan cara tatap muka. Pengasuh ataupun santri senior membacakan naskah bahasa arab lengkap dengan artinya sesuai dengan bahasa di pondok itu berada.

Para santri lalu memanfaatkan alat tulis dengan ujung pena kecil menuliskan makna yang telah diajarkan oleh pengasuh ataupun santri senior yang membacakan kitab saat itu. Dulu, para santri memanfaatkan alat tulis dengan mata pena yang dicelupkan pada tinta China yang diberi pelepah daun pisang agar meresap, tapi karena dianggap sudah tidak efisien, akhirnya para santri memilih memanfaatkan bolpoin dengan mata pena lebih kecil, yang biasanya banyak dimanfaatkan oleh para arsitektur.

Di Kediri, terdapat sebuah pondok pesantren yang pengasuhnya menggunakan metode baru untuk mempelajari kitab. Adalah di Pondok Pesantren dan Madrasah Spesial Fiqih "Hidayatut Thullab" di Dusun Petuk, Desa Pohrubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Pondok ini didirikan oleh KH Ahmad Yasin Asymuni. Beliau memberikan gagasan untuk memberikan makna bahasa Jawa dari kitab-kitab yang dipelajari para santri. Tujuannya, tak lain untuk memudahkan para santri memahami kitab dan mempercepat proses belajar.

KH Ahmad Yasin Asymuni merupakan salah satu pengasuh pondok pesantren yang cukup aktif menghasilkan karya. Selain sebagai salah seorang pencetus dan yang memprakarsai penerbitan kitab dengan makna Bahasa Jawa tersebut, beliau juga cukup produktif.

Sejumlah penghargaan diberikan kepadanya. Atas usahanya memprakarsai penerbitan kitab dengan makna Bahasa Jawa, pada 2004 beliau didatangi oleh para orientalis dari Chicago, AS dan memberinya gelar sebagai profesor. Ia juga mendapatkan penghargaan dari Kementerian Agama atas jasanya dalam bidang keilmuan/akademik sebagai penulis produktif dalam kajian kitab di pesantren pada 2 Januari 2011 lalu.

Kitab bermakna di pondok ini populer dengan sebutan "Kitab Bima'na Pethuk". Seluruh penanganan kitab ini seperti pencetakan dan pendistribusian dikelola oleh koperasi pondok dan didistribusikan ke seluruh pesantren di Indonesia.

Bukan hanya itu, beberapa di antaranya juga didistribusikan ke luar negeri, seperti ke Malaysia, Mesir, dan sejumlah negara lainnnya. Sejak 1993 sampai sekarang, ada 188 kitab yang dipublikasikan. Mayoritas kitab-kitab ini dilengkapi dengan makna berbahasa Jawa.

Pengasuh memimpin sendiri pemaknaan kitab kuning itu. Ia dibantu oleh santri yang tulisannya bagus dan bertugas mencatat semua uraiannya di samping naskah utama. Catatan pinggir itu kemudian diselaraskan lagi dengan isi kitab, agar tidak terjadi kesalahan pemaknaan.

Pengasuh berharap dengan pemaknaan itu, akan memudahkan para santri untuk belajar. Dengan kitab yang sudah diberi makna, para santri bisa lebih cepat belajar dan bisa segera mempelajari kitab lainnya, sehingga ilmu yang didapat juga lebih banyak.

"Mayoritas pengasuh sendiri yang memberikan makna, tapi masih dibantu dengan santrinya," kata Fuad Hasyim, pengurus di pondok itu.

Sebenarnya, upaya pemaknaan kitab kuning di pondok tersebut telah dimulai sejak pertengahan 1990. Saat ini, sudah terdapat 188 kitab yang dihasilkan oleh pengasuh dan mayoritas dilengkapi dengan makna Bahasa Jawa. Seluruh kitab itu dicetak dan didistribusikan ke seluruh pesantren di Indonesia lewat koperasi pondok.

Satu kitab, rata-rata dicetak sampai 25 ribu eksemplar. Tiap tahun rata-rata pengasuh membuat 10 judul kitab baru. Khusus untuk Ramadhan, permintaan kitab yang terbanyak adalah "nukilan". Kitab ini dibuat oleh pengasuh sendiri, yang diambil dari berbagai macam kitab ditulis ulang oleh beliau.

Sementara itu, para santri di pondok ini bukan hanya berasal dari wilayah Kediri saja. Banyak para santri berasal dari luar Jawa Timur, seperti dari Sumatera, Kalimantan, dan sejumlah daerah lain di Indonesia.

Kurikulum di pondok ini juga berbeda dengan kurikulum di pesantren pada umumnya, yaitu lebih singkat dan padat. Khusus di tingkat aliyah yang lebih konsetrasi pada ilmu fikih atau "takhassush fiqh".

Di pondok ini, selain bisa mempelajari ilmu agama secara mendalam dan matang dengan kuriklum tinggi, para santri juga bisa mendapatkan ijazah formal (SMP/SMA) melalui wajar Dikdas sembilan tahun dan kejar paket. Ijazah di pondok ini juga bisa dimanfaatkan untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi agama di seluruh Indonesia.

Belajar Mandiri

Para santri di pondok ini selain belajar agama juga diberi keterampilan sebagai bekal mereka di masa depan. Beragam program diberikan sebagai upaya belajar mandiri, misalnya untuk santri putri diberi keterampilan menjahit, sedangkan santri putra diberi keterampilan belajar elektronik, otomotif, pertanian, maupun peternakan.

Pengurus pondok Fuad Hasyim mengatakan untuk program peternakan, ada sekitar tiga kolam yang sudah dimiliki. Satu di antara kolam itu ukurannya cukup besar mampu menampung ikan sampai 30 ribu ekor.

"Kolammnya diisi ikan manggasius dan sudah panen kemarin. Saat ini belum diisi kembali," tuturnya.

Ia mengatakan, para santri memang dilibatkan untuk mengurus beberapa unit usaha dari pondok, tapi tidak semua santri. Hal itu dilakukan, agar para santri konsentrasi belajar.

Selain mandiri dengan diberi bekal keterampilan, para santri juga dilatih mandiri menjadi seorang pendakwah. Pondok memberikan program istigasah dan dialog interaktif. Pengasuh pondok, KH Ahmad Yasin Asymuni menjadi tokoh sentral istighotsah dan dialog interaktif Hidayatut Thullah (IDI-HIT).

Abidin, pengurus pondok lainnya mengatakan terdapat kegiatan dakwah yang dilakukan di dalam pesantren dilakukan setiap dua pekan sekali, lalu kegiatan IDI-HIT setiap satu bulan sekali, merupakan kegiatan di luar pondok dilakukan berpindah-pindah, serta istigasah Hidayatut Thullab (IS-HIT) yang merupakan lokasi silaturahmi alumni pondok.

"Pengasuh merupakan tokoh sentral kegiatan itu, tapi biasanya santri yang diserahi tanggung jawab," tukasnya.

Ia merasa dengan program itu, ilmu yang selama ini dipelajari di pondok lebih mengena. Selama ini, mereka belajar, diskusi tentang ilmu mereka, tapi hanya di lingkungan pondok. Dengan terjun ke masyarakat langsung, ilmu mereka menjadi lebih bermanfaat.

Di pondok ini memang terkenal dengan salaf. Namun, saat ini pondok sudah mulai membuka pondok khusus anak untuk putra dan putri tepatnya pada 2010 lalu dengan program pendidikan SD-plus, yaitu sekolah dasar plus diniyah dengan kegiatan ekstra seperti belajar membaca kitab suci Al Quran dan mengaji.

Para santri di pondok anak juga berasal dari berbagai macam deerah di Jatim. Ada sekitar 50 santri anak yang sudah tinggal di tempat itu, dan mereka dibimbing oleh sekitar sembilan ustaz yang juga santri di pondok.

Walaupun membuka untuk program pendidikan SD-plus, Abidin meyakinkan eksistensi pondok pesantren akan tetap terjaga. Bukan hanya mempertahankan kitab kuning sebagai buku wajib di pondok, juga mengajarkan ilmu agama, memperbaiki akhlak, serta mengajarkan tata cara beribadah yang sesuai tuntunan agama.

Redaktur: Mukafi Niam
Sumber  : Antara

Belajar Al-Qur’an di atas Becak




Solo, NU
Pada bulan Ramadhan, semua ibadah akan dilipat gandakan. Nah belasan tukang becak di Solo ini tidak mau kerlena dengan profesi mereka.

Mereka yang tergabung dalam paguyuban dalam Paguyuban Tukang Becak Solo Grand Mall itu berkumpul sambil menunggu penumpang terlihat antusias menyimak penjelasan dari sesama kawannya.

Momentum Ramadan tahun ini dimanfaatkan para tukang becak ini untuk belajar bersama membaca Al-Qur’an. Kegiatan itu digelar untuk mengisi waktu senggang saat menjalani puasa di bulan Ramadan.

Ukur Sukar (71) salah seorang tukang becak mengaku jika dirinya memang tidak bisa membaca Al-Qur’an. Namun, ia sering mendengarkan bacaan Al-Qur’an melalui pengajian di masjid.

“Saya tidak bisa membaca Al-Qur’an sejak dulu, ya dengan adanya kegiatan ngaji bersama ini saya menjadi sedikit mengerti cara membacanya dan memahami arti dari Al-Qur’an tersebut,” ujarnya kepada wartawan seusai membaca Al-Qur’an.

Menurut Ukur, kegiatan ini sangat berarti daripada ia bersama teman-temannya jenuh menunggu penumpang dan hanya dihabiskan waktu dengan tidur saja. Saling belajar membaca Al-Qur’an menurutnya lebih positif dan mendatangkan pahala.

Sementara itu, tukang becak lain yang bertindak sebagai guru pengajar Al-Qur’an, Imam Suyatno (49) mengatakan senang bisa mengajari teman-temannya agar bisa menjalankan syariat Islam dengan baik. Karena selain ibadah salat membaca Al-Qur’an saat bulan Ramadan pahalanya besar sekali.
Ia berharap kegiatan mengaji ini tidak hanya dilakukan saat bulan puasa saja, tapi di bulan-bulan selanjutnya bisa terus berjalan.

"Saya juga ingin mengajarkan salat pada teman-teman yang lain, saya liat mereka salatnya masih banyak yang bolong-bolong bahkan ada yang tidak bisa doanya,” jelasnya.



Redaktur    : A. Khoirul Anam
Kontributor: Ahmad Rosyidi

BUKU Meninti Kesempurnaan Iman





Sanggahan atas buku “ Benteng Tauhid “ karya Syekh Abdullah bin Baaz

Oleh : Habib Munzir Al Musawa

Daftar Isi

1. Istighatsah ... 1
2. Peringatan malam Nisfu Sya’ban ... 11
3. Membuat bangunan atau membangun masjid diatas kuburan ... 34
4. Peringatan maulid Nabi Muhammad Saw .... 44
5. Tabarruk ... 82
6. Memohon pertolongan kepada orang yang telah mati ... 94
7. Ibadah di malam Isra Mi’raj ... 108
8. Keutamaan tauhid ... 138
9. Mengambil keberkahan atas jimat atau ulisan ayat – ayat Alqur’an ... 142
10. Menyembelih binatang dengan nama selain Allah ... 149
11. Meminta pertolongan kepada selain Allah ... 151
12. Sikap berlebih – lebihan dalam ibadah ... 156
13. Thawaf di kuburan ... 174
14. Bertanya sesuatu hal kepada shalihin ... 182
15. Mencintai dan takut kepada Allah melalui perantara Kekasih-Nya ... 182
16. Bergantung kepada Nabi Muhammad Saw ... 183
17. Memberi nama harus disandarkan kepada Nama Allah ... 184
18. Melukis atau mengagungkan atau menggantung gambar makhluk bernyawa... 185 19. Memuliakan orang shalih ... 187
20. Menghukum dengan hukum selain hukum Allah ... 188
21. Bersumpah atas nama selain Allah ... 190
22. Golongan yang selamat ... 191

DOWNLOAD

Puasa dan Ajaran Sunan Ampel tentang Mohlimo





Alkisah Sunan Ampel dipanggil oleh Bhre Kertabumi, Raja Majapahit. Ia ditugaskan untuk memperbaiki moral masyarakatnya yang bejat.
Sunan Ampel memperbaiki akhlaq masyarakat dengan mengajarkan prinsip mohlimo. “Moh” artinya tidak mau. “Limo” artinya lima. Jadi mohlimo berarti tidak mau melakukan lima hal, yaitu: main (berjudi), minum (minuman keras),maling (mencuri), madat (narkotika), danmadon (main perempuan).
Menurut Sunan Ampel, dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa mereka yang melakukan lima hal itu akhirnya menderita baik lahir maupun batin. Sebaliknya jika menghindari lima hal ini, hati/rohaninya menjadi bersih, fisik menjadi sehat, jauh dari serangan berbagai jenis penyakit, dan insya Allah hidupnya sekeluarga berbahagia.
Maka dalam waktu relatif tidak terlalu lama Sunan Ampel dapat memperbaiki moral rakyat Majapahit masa itu. Ajarannya banyak menarik simpati dan pada akhirnya banyak rakyat Majapahit yang tertarik Islam, termasuk para pembesar kerajaan.
Kini di kalangan masyarakat Jawa tak asing lagi mendengar kata mohlimo atau lima Mo yang merupakan pedoman hidup yang mesti dipegang teguh, yang bersumber dari ajaran Islam. Ajaran Sunan Ampel tentang mohlimo yang sampai sekarang masih relevan.
Pengalaman membuktikan, ketika seorang melakukan Mo yang pertama maka akan diikuti Mo berikutnya, dan seterusnya.
Yang pertama yakni maling atau mencuri. Maling bisa berarti korupsi atau mencuri, dan semua perbuatan yang disebut mencuri, maka orang tadi sudah bisa dibilang melakukan perbuatan Mo yang pertama yakni maling.
Setelah maling atau koruptor mengembat duit negara yang bersumber dari duit rakyat jelata ratusan sampai miliaran rupiah atau mengembat uang serta harta benda milik orang lain, maka orang itu hawanya panas akan cenderung tergoda untuk melangkah pada step (tahap) Mo kedua yakni main.
Main sebagai Mo kedua dalam istilah Jawa maksudnya : judi, gambling, taruhan, dan aneka perbuatan yang intinya berjudi. Berjudi menjadi lebih mengasyikkan bagi orang yang telah maling, karena toh bukan uang halal yang dibuat judi, jadi beban mental untuk berjudi tidak seberat ketika memakai uang gaji atau keuntungan bersih dagang yang halal. Berjudi ketika memakai uang hasil korupsi akan terasa lebih ringan karena kalau habis, toh bukan uang dirinya sendiri, nanti bisa korupsi lagi.
Setelah melakukan Main sebagai Mo Kedua dalam komponen 'Lingkaran Setan MoLimo', maka orang yang telah berjudi memerlukan tambahan stamina untuk tetap ‘on’ dalam bersenang-senang dalam kemaksiatan yakni dengan melangkah pada tahapan atau stage/ step Mo yang ketiga yakni : Minum.
Mo ketiga dari satu lingkaran setan MoLimo adalah Minum. Minum adalah istilah dalam bahasa Jawa untuk minum miras (minuman keras). Dalam Mo ketiga ini otak akan dibawa larut oleh suasana lebih rileks dan gembira saat dalam kondisi Mo Kedua yakni Main/berjudi, karena kalah-menang pun akan tetap gembira karena pengaruh alkohol. Derai tawa selalu membahana di tengah kesukaan dan keriaan tenggelam dalam lingkaran setan MoLimo.
Bila tubuh dan keinginan telah menagih untuk mencapai derajat teler yang lebih tinggi sebagai kenikmatan berikutnya, maka telah sampailah pelaku pada step Mo yang keempat yakni Madat.
Madat dalam istilah bahasa Jawa maksudnya memakai opium, opiate dan obat bius (dulu), kalau sekarang adalah menyalahgunakan narkotika dan aneka produk turunannya.
Lazim didapati sebuah efek menagih setelah tubuh ringan oleh alkohol maka muncul keinginan kuat untuk menambah derajat kenikmatan menjadi kenikmatan narkoba.
Dalam Mo keempat dalam lingkaran setan ini orang akan mengkonsumsi narkoba.
Kini lazim diketahui berbagai jenis narkoba bisa menggiring otak ke arah sensasi luar biasa yang sesungguhnya fatamorgana, apalagi jenis shabu dan methamphetamine, maka orang yang telah sampai pada step Mo keempat, akan segera mencari step Mo yang kelima yakni madon.
Madon adalah Mo kelima atau Mo final, jurang dari seluruh prosesi rangkaian 'Lingkaran Setan MoLimo' yang dilakukan orang, dan tersedia luas di muka Bumi. Namun, sejak setan adalah musuh yang nyata, maka kita harus senantiasa waspada. Mo kelima adalah Madon. Apa hubungannya Madon dengan Madat ? Jawabnya : kerap kali orang memakai narkotika jenis shabu dan aneka narkotika jenis baru untuk menghantarkan pada step berikutnya yakni memuaskan diri dalam hal hasrat seksual.
Pada tahapan step Mo kelima dalam ihkwal rangkaian MoLimo sebagai lingkaran setan yang tak terputus ini, Madon adalah istilah lain untuk main perempuan (nakal). Madon secara umum dalam bahasa Jawa adalah berzina, selingkuh, melacur, main dengan pelacur.    
Istilah madon dalam bahasa Jawa digunakan sebagai penanda untuk kegiatan berzina baik untuk lelaki dan perempuan. Sampai pada step yang Kelima yakni Madon ini, maka pelaku bukannya berhenti, tapi karena MoLimo pada hakekatnya adalah sebuah circle, sebuah siklus dan sejatinya adalah lingkaran setan, maka pelaku akan kembali lagi pada step/ stage yang pertama yakni maling lagi, korupsi lagi. Tidak ada puasnya, seperti terkena penyakit psikopat.
Jadi dalam konteks Ramadhan, maka puasa bukan semata-mata menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan hawa nafsu MoLimo tadi. Singkatnya, puasa adalah juga sebuah komitmen untuk Mohlimo, menghindari malingmainminummadat, dan madon dalam berbagai bentuknya.

* Abdullah Hamid
Pengasuh Pesantren Budaya Asmaulhusna (Sambua) Lasem, Jawa Tengah



Buku Kenalilah Aqidahmu



KENALILAH AKIDAHMU 2
Penulis : Munzir Almusawa
Editor : Bintyqurratainiy
Desain Sampul & Layout : Ahmad Fauzi
Cetakan Pertama : 2009
Penerbit, Majelis Rasulullah saw
Tel, 021-7986709
Http://www.majelisrasulullah.org
Copyright © 2009
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved

KATA PENGANTAR
Bismillahirahman rahim, segala puji bagi Allah Azza Wa Jalla, Tuhan seru
sekalian alam yang menyeru sekalian hati hamba-Nya untuk selalu turut serta dalam
samudera makrifat hingga tenggelam dalam kecintaan kepada-Nya. Shalawat
serta salam atas Al-Mustafa Sayyidina Muhammad saw jadilah abadi padanya,
keluarganya dan seluruh sahabatnya.
Telah banyak permintaan dari saudara-saudari kita untuk membahas lebih
lanjut seputar permasalahan khilafiyah semacam kegiatan Maulid, Tahlil, Ziarah
Kubur, Dzikir, Yassin dan beberapa hal ubudiyah lainnya yang menurut sebahagian
dari saudara kita dipungkiri kebenarannya.
Buku yang diberi judul “Kenalilah Akidahmu 2”. Pada akhirnya adalah
kewajiban bagi kita untuk selalu menyeru dan menyeru atas mereka siapapun
mereka selama mereka keturunan Adam as untuk terus mengenal indahnya
keagungan islam sebagai akhlaq, pedoman hidup dan aqidah. wallahu a’lam.
Dengan segala kerendahan hati, saya berharap agar kehadiran buku ini turut
serta memperkaya khazanah keislaman kita.

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ……………………............…………………………………. i
DAFTAR ISI.……………………………………………................……………....... ii
BAB I DEFINISI BID’AH, HADITS DHO’IF DAN SEJARAH RINGKAS PARA
IMAM DAN MUHADDITSIN
I.1. DEFINISI BID’AH ….....……………………………………. … 1
I.1.1 Nabi Saw Memperbolehkan Berbuat Bid’ah Hasanah …. 1
I.1.2 Siapakah Yang Pertama Memulai Bid’ah Hasanah Setelah
Wafatnya Rasul Saw ….…........………………………..... 2
I.1.3 Bid’ah Dhalalah ……….……………………………........ 7
I.1.4 Pendapat Para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah ... 9
I.2. DEFINISI HADITS DHO’IF ……...…………………………….. 11
I.3. SEJARAH RINGKAS PARA IMAM DAN MUHADDITSIN .. .... 17
BAB II MASALAH KHILAFIYAH DAN DAN SEPUTAR TANYA JAWAB YANG
ADA DI WEBSITE (www.majelisrasulullah.org)
II.1. Ayat Tasbih ………………………………………………………….. 23
II.2. Hukum Majelis Dzikir dan Dzikir Bersama …………………………. 26
II.3. Hukum Alat Musik Rebana di Masjid ………………………………. 28
II.4. Surat Sanggahan ................................................................................. 30
II.4.1 Dalam Hal Shalat …....……………………………………. 31
II.4.2 Dalam Shalat Jum’at ……………………………………… 34
II.4.3 Dalam Shalat Tarawih / Witir / Tahajjud ….……………… 36
II.4.4 Dalam Upacara Ta’ziyah …….…………………………… 38
II.4.5 Dalam Upacara Penguburan ……………………………… 40
II.5. Kenduri Arwah, Tahlilan, Yassinan menurut Para Ulama .................. 41
II.6. Tahlilan .…………………….........................................………….... 49
II.7. Tawassul .……………………................................………………… 52
II.8. Peringatan Maulid .............................................................................. 60
II.9. Tabarruk ............................................................................................. 70
II.10. Istighatsah .………………………........................................………. 75
II.11. Wajibkah Bermadzhab .………............................………………….. 78
II.12. Orangtua Rasul Saw Mati Musyrik ..………................…………….. 79
II.13. Mengirim Pahala dan Bacaan kepada Mayyit..…………….....…….. 85
II.14. Mengangkat Tangan Sesudah Berdoa Sesudah Shalat .…………….. 93
II.15. Bersalaman Bid’ah …………………………………………………. 94
II.16. Cium Tangan Bid’ah ……………………………………………….. 94
II.17. Melafadzkan Niat Menurut Madzhab Syafi’iyah .………………… 98
II.18. Qabliyah Jum’at Tidak Ada …………………………………….… 99
II.19. Shalat Berjama’ah dan Wirid Bersama …………………………….. 101
II.20. Tanda Hitam di Kening / Dahi .…………………………………… 104
II.21. Keutamaan Shalawat Nariyah ( Fiqh / Aqidah ) …………………… 105
II.22. Hukum Adzan dan Iqamah di Kuburan ……………………………. 107
II.23. Jihad ………………………………………………………………… 108
II.24. Foto Ulama dan Kuburan di Masjid ………………………………… 109
II.25. Wanita Ziarah ke Makam …………………………………………… 113
II.26. Nabi Muhammad Saw di Alam Barzakh …………………………… 113
II.27. Zakat Profesi ………………………………………………………. 118
II.28. Cara Menghitung Zakat Harta …………………………………….. 121
II.29. Shalat Tarawih …………………………………………………….. 122
II.30. Hadits Bantahan Amalan Bulan Rajab ……………………………. 123
II.31. Daulah Islamiyyah ………………………………………………… 125
II.32. Nabi Khidir As Masih Hidup ……………………………………… 127
II.33. Sorban dan Imamah Bukan Sunnah Tapi Adat Orang Arab Saja .… 129
II.34. Yasinan Malam Jum’at Haditsnya Palsu ………………………….. 130
II.35. Petasan Kembang Api Maulid adalah Munkar .…………………… 131
II.36. Jawaban Atas Penghinaan Terhadap Ulama Hadramaut, Yaman … 132
II.37. Hukum Bayi Tabung ……………………………………………… 141
II.38. Hadits Sentuhan Didhoif-kan Imam Bukhari …………………….. 141
BAB III PERNYATAAN - PERNYATAAN YANG DIJAWAB..............……......... 144
MASALAH - MASALAH LAINNYA SEPUTAR FIQIH, AKIDAH, TAUHID
DAN LAINNYA ........................................................................................................... 190
JAWABAN UNTUK KECAMAN TERHADAP NABI SAW...…………........…... 229
TEKS ARAB DAN WIRD ALLATHIF (Hujjatul Islam Al Imam Abdullah bin
Alwi Alhaddad) ........................................................................................................... 275
DOA NABI KHIDIR AS ………………………………………………………........ 299
SANAD ILMU …………………………………………………………………........ 301
SANAD SHAHIH MUSLIM …………………………………………………......... 311
SANAD SHAHIH BUKHARI ................................................................................... 312

DOWNLOAD

Kasih Sayang Nabi kepada Kedua Cucu Mungilnya



Pernah suatu kali jamaah shalat Jum’at dikagetkan dengan tindakan Nabi Muhammad SAW di sela-sela khotbahnya. Rasulullah mendadak turun dari mimbar lantaran kedua cucunya yang masih kecil, Hasan dan Husain, menangis.
Nabi segera menghampiri Hasan dan Husain yang saat itu sedang ikut di masjid dan berusaha menenangkan keduanya. Melalui bahasa isyarat dan kelembutan hatinya, tangisan mereka mereda, dan beliau pun melanjutkan khotbahnya hingga selesai. Tak pernah Nabi membaca khotbah lebih panjang dari shalatnya.
Peristiwa lain tentang ”tingkah usil” kedua cucu mungilnya ini juga terjadi saat Rasulullah sedang mengerjakan shalat sunnah dua rakaat. Ketika sujud berlangsung, tiba-tiba Hasan memanjat punggung Nabi. Hasan kecil memukuli tubuh kakeknya itu selayak menunggang kuda yang mesti berpacu cepat.
Sebetulnya Nabi sudah cukup lama menempelkan dahinya di atas lantai. Tapi tingkah Hasan membuat manusia mulia ini memperpanjang sujudnya lebih lama lagi. Hasan puas bermain kuda-kudaan.
Hasan akhirnya turun. Nabi mulai berniat mengangkat tubuhnya. Sekali lagi punggungnya tertahan. Husain tiba-tiba melompat ke atas punggung dan menirukan aksi kakaknya, Hasan. Artinya, Nabi mesti menambah waktu lagi untuk menunda duduk tasyahud. Baru ketika kedua cucunya turun, Rasulullah melanjutkan gerakan sembahyangnya.
Rasulullah mencontohkan betapa kasih sayang terhadap keluarga dan anak kecil adalah sikap yang harus diutamakan. Sikap Nabi ini juga mencerminkan kepekaannya tentang menghargai keterbatasan seseorang, baik dalam hal kondisi fisik, daya tangkap, ataupun tingkat pengetahuan. Keluhuran akhlak Nabi terpancar justru saat segenap keputusannya tersebut menjadi prioritas, melebihi ritus keberagamaan. (Mahbib Khoiron)

Penyatuan Shalat Tarawih Bukti Adanya Toleransi



Solo, 
Pelaksanaan tarawih perdana di Masjid Agung Solo, Selasa (9/7) malam kemarin, mengakhiri dualisme seperti yang terjadi pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya. Dulu, shalat tarawih dilaksanakan terpisah dua kelompok dalam waktu yang bersamaan. Namun pada shalat tarawih semalam, terlihat semua jamaah berkumpul menjadi satu di ruang utama.

“Kalau tahun-tahun sebelum memang ada dua salat tarawih di bagian utama masjid dan di serambi. Tapi untuk kali hanya akan ada satu salat tarawih saja, yaitu di ruang utama masjid,” terang Ketua Takmir Masjid Agung Surakarta, Slamet Abi.

Ratusan jamaah yang mengikuti sholat dengan antusias mengikuti jumlah rakaat yang sudah ditetapkan, yakni 20 rakaat. Sang imam membaca al-Quran dari juz 1. “Ramadan tahun ini kami targetkan dalam shalat tarawih bisa mengkhatamkan Al Qur’an,” ungkap dia.

Tatkala sudah mencapai delapan rakaat, kemudian jamaah yang ingin 20 rakaat berhenti salat, sampai menunggu salat witir selesai dengan imam berbeda. Baru setelah itu dilanjutkan salat tarawih yang 20 rakaat dengan imam yang pertama.

“Memang agak bingung, tapi sebetulnya ini sudah pernah dilakukan tahun-tahun sebelumnya, jadi ini hanya mengembalikan dari awal,” imbuh Slamet.

Menyinggung penyatuan sholat tersebut, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta, Zaenal Arifin Adnan, menyebut bahwa perubahan itu merupakan sikap toleran terhadap perbedaan pendapat. "Meskipun, cara yang lama sebenarnya juga menunjukkan hal yang sama," terangnya.

Menurutnya, masjid sebesar Masjid Agung memang harus bisa mengakomodir semua kalangan yang memiliki perbedaan pendapat. "Masing-masing memiliki dasar dan dalil yang diyakini," kata Zaenal.


Redaktur    : A. Khoirul Anam
Kontributor: Ajie Najmuddin

Pakar: Puasa Ramadhan Aman bagi Ibu Hamil


Jakarta,
Puasa Ramadhan aman bagi ibu hamil selama berat badan ibu dalam keadaan stabil dan tidak terjadi gangguan fisik, demikian disampaikan pakar Kebidanan dan Kandungan dr Taufik Jamaan SpOG.

"Selama tidak ada masalah bagi ibu dan bayi, artinya berat badannya masih baik, kondisi fisiknya bagus dan tidak memaksakan diri, puasa aman bagi ibu hamil," ujar Taufiq Jamaan di Jakarta, baru-baru ini.

Taufik mengatakan, selama kehamilan tubuh ibu mengalami berbagai macam adaptasi dalam rangka menyesuaikan diri dengan kondisi kehamilannya, dan mempersiapkan diri pada saat persalinan.

Perubahan tersebut meliputi pertambahan berat badan, metabolisme air, metabolisme protein, metabolisme karbohidrat, kondisi "kelaparan terakselerasi" dan metabolisme lemak.

"Berbagai fungsi organ ibu hamil juga mengalami perubahan selama kehamilan, baik sistem jantung dan pembuluh darah, pencernaan, pernafasan dan sistem organ yang lain," paparnya.

Dengan kondisi demikian, Taufik mengemukakan, banyak sekali penelitian yang telah dilakukan tentang pengaruh puasa dalam kehamilan.

Taufik mengatakan, sebuah penelitian Alwasel dari Universitas King Saud Arab Saudi pada 2010 tentang perubahan plasenta pada ibu hamil menunjukkan terjadi penurunan berat plasenta ibu hamil yang sedang berpuasa pada trimester kedua dan ketiga masa kehamilan.

Namun, lanjut Taufik, hal tersebut tidak memengaruhi berat lahir bayi dan kondisi kesehatan bayi secara umum, karena kondisi tersebut berbeda dengan perubahan plasenta dari ibu yang menderita penyakit kronis.

Sementara itu, penelitian di Yaman menunjukkan sekitar 90,3 persen dari 2.561 pasien hamil yang menunaikan puasa Ramadhan memperlihatkan tidak terdapat hubungan antara penurunan berat badan ibu maupun janin akibat puasa.

"Dari berbagai penelitian yang ada jelas bahwa puasa Ramadhan tidak berbahaya bagi ibu hamil. Tetapi perlu diperhatikan kondisi kehamilan itu sendiri," ungkap Taufik.

Menurut dia, ibu hamil yang sedang berpuasa sebaiknya minum air putih dua liter sehari, mengonsumsi makanan bergizi dengan kombinasi sayur dan buah, serta minum vitamin dan susu pada saat sahur dan berbuka puasa.

Namun, Taufik menambahkan, bila terjadi permasalahan terhadap kehamilan sejak awal misalnya, seperti mual, pusing dan muntah pada trimester awal atau terdapat komplikasi penyakit kronis sebelum kehamilan, hal ini akan membahayakan ibu dan janin bila menunaikan ibadah puasa Ramadhan.


Redaktur: Mukafi Niam
Sumber  : Antara

Cari Blog Ini

Radio

YM

IKLAN

Total Tayangan Halaman

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Bachtiar Irfansyah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by FB Bachtiar Irfan
Proudly powered by Blogger